Toni dan Ren adalah dua orang anak berusia 4 tahun yang selalu mengganggu Ben selama di sekolah. Mereka berdua menyukai film yang bertema kekerasan. Dalam keluarganya, aturan tidak benar-benar ditegakkan. Jika ada orangtua murid lain yang mengatakan Toni atau Ren mengganggu anak lainnya, kedua orangtua mereka hanya mengatakan "Itu cuma main-main, biasa lah namanya juga anak-anak" Mereka bahkan masih tersenyum kepada anaknya dan hanya mengatakan "minta maaf ya" tanpa memberikan masukan bagi anaknya. Toni dan Ren tidak menganggap orangtuanya sebagai otoritas, tetapi sebagai teman yang mendukung mereka. Bagi Toni dan Ren tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi mereka mendapatkan keinginannya.
Apapun keinginan Toni dan Ren mudah sekali didapatkan, karena orangtuanya selalu memberikan apa yang diinginkan. Ketika di sekolah, mereka bebas melakukan segalanya, termasuk mengganggu Ben. Ben adalah anak yang terkecil di kelas, sangat mudah untuk dijadikan target oleh Toni dan Ben. Ben dianggap sebagai monster yang harus dikalahkan, seperti dalam film yang mereka tonton. Di dalam film yang mereka tonton, monster adalah sosok yang harus dikalahkan. Selama menonton, mereka juga tidak pernah didampingi orang yang lebih dewasa untuk menjelaskan dan mengoreksi kesalahan mereka dalam berlogika. Akibatnya, mereka beranggapan kekerasan diperbolehkan "untuk membela kebenaran," tanpa ada yang meluruskan pandangan mereka. Ben ditempatkan sebagai monster karena ia kecil dan mudh dikalahkan oleh mereka yang bertubuh lebih besar. Mereka memukul, menendang, dan mengejar Ben tanpa henti. Ben yang dijuluki Si Kecil, menganggap Toni dan Ren sebagai ancaman di sekolah. Ia pun enggan untuk pergi ke sekolah.
Pada dasarnya, baik Toni maupun Ren, bukanlah anak yang jahat. Mereka seperti sebuah kanvas putih yang siap dilukis dengan berbagai warna. Di satu sisi mereka menerima apapun yang ada dalam lingkungannya. Di lain sisi, mereka belajar melalui apa yang diterima di lingkungannya. Pemahaman yang mereka dapat saat menonton film tidak disertai nilai-nilai moral yang seharusnya diberikan orang yang lebih dewasa. Orang-orang yang lebih dewasa mampu mengajarkan bahwa kekerasan tidak perlu dilakukan dalam siatuasi apapun. Selain itu, film yang mengandung kekerasan kurang baik jika ditonton oleh anak yang berusia sekitar 4 tahun, karena kemampuan mereka dalam bernalar belum berkembang sampai maksimal. Mereka boleh saja menonton, tetapi perlu ada orang lain yang lebih dewasa untuk meluruskan pemahaman mereka mengenai film tersebut.
Tidak setiap orangtua dapat menyadari perubahan dalam perilaku anaknya. Di rumah, Toni dan Ren tidak bersama dengan Ben, sehingga mereka tampak sebagai anak yang baik dan tidak mengganggu siapapun. Orangtua mereka tentu tidak selalu berada di sekolah bersama anak-anaknya, tetapi mereka selalu ada di rumah dan menyaksikan anak-anaknya adalah anak yang baik. Tentu mereka menyangkal jika anaknya dikatakan nakal. Sekarang kita dapat melihat bahwa sesuatu yang dipelajari anak akan mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Jika nilai-nilai yang baik ditanamkan, tentu mereka menjadi anak yang baik. Sebaliknya, mereka akan menjadi anak "nakal" jika nilai-nilai yang baik tidak ditanamkan.
Bersambung . . .