Bayangkan Anda sedang menatap sebuah kanvas. Sapuan kuas pertama adalah warna yang cerah, misalnya jingga. Apa yang Anda bayangkan dalam warna jingga? Apa yang Anda rasakan? Warna ini melukiskan perasaan senang dalam sebuah situasi. Ya, masa kecil memang masa yang paling menyenangkan. Seorang anak yang belajar beradaptasi dengan dunianya belajar untuk "merasakan" dunia dengan panca inderanya. Sejak ia dilahirkan, ia mulai belajar mengenali dunia ini, apakah menyenangkan atau tidak? Ia pun belajar berjalan, berbicara, bermain, dan lain-lain sampai ia mampu melakukan semuanya sampai ia mulai masuk ke sekolah.
Seorang anak bernama Ben (mohon maaf untuk Anda yang bernama Ben, ini hanya untuk menyamarkan identitas) adalah anak yang akan diceritakan dalam kisah Kanvas Putih. Awal kisah hidupnya tidak diwarnai dengan warna yang cerah, tetapi kelam. Kisah ini diawali pada saat ia berusia 4 tahun. Ia adalah seorang anak tunggal dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang wiraswasta dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Jika ayahnya pergi bekerja, Ben bersama dengan ibunya. Ibu Ben hanya menitipkannya pada pembantu jika ingin memasak, demi keamanan Ben. Meskipun demikian, Ben tetap dapat melihat ibunya, karena pembantu di rumahnya tidak membawanya jauh dari ibunya.
Kehidupan Ben sebelum sekolah sangat menyenangkan. Ia sering diajak pergi jalan-jalan, membeli mainan, dan bermain dengan anjing di rumahnya. Meskipun ia adalah anak tunggal, Ben tidak dimanja seperti anak tunggal pada umumnya. Kedua orangtuanya berkeinginan ia tidak menjadi anak yang manja. Ibu Ben konsisten dalam mendidik anaknya. Sesuatu yang memang tidak diperbolehkan memang tidak diijinkan, aturan-aturan tidak diubah. Akan tetapi, ayah Ben mudah sekali memberi toleransi. Misalnya, pada saat Ben batuk, ia diperbolehkan memakan sedikit makanan yang digoreng. Jika ia tidak mendapatkan yang diinginkan dari ibunya, ia meminta kepada ayahnya, karena seringkali ia dapatkan.
Di dalam keluarganya, Ben selalu diajarkan bagaimana cara membaca, menulis, berhitung, dan lain-lain. Ada dua hal yang sama sekali tidak diajarkan kepadanya saat masih kecil, yaitu seni dan agama. Keluarga Ben memang tidak pernah mengunjungi tempat-tempat ibadah sama sekali. Kedua orangtuanya hanya mengatakan kepada Ben bahwa ia beragama Buddha Kong Hu Cu. Baik Buddha, maupun Kong Hu Cu, sebenarnya berbeda, tetapi ayah Ben mengatakan keduanya sama. Di dalam keluarganya, Ben hanya mengetahui ayahnya melakukan sembahyang untuk menghormati leluhur, selebihnya tidak. Kedua orangtuanya memang tidak mengunjungi Vihara dan melakukan ibadah secara rutin. Akibatnya, Ben yang masih kecil tidak mengenal agama sama sekali.
Pertama kalinya Ben datang ke sekolah X, ia menyukai permainan-permainan yang ada di sekolah itu. Di sana ada seluncur, ayunan, dan lain-lain. Melihat ekspresi Ben yang begitu senang, kedua orangtuanya mendaftarkannya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak (TKK) di sekolah itu. Kebetulan, sekolah itu adalah sekolah Kristen. Pada hari pertama sekolah, Ben pun diantar ibunya ke sekolah. Maklum, anak yang pertama kali sekolah menangis keras, sama seperti Ben. Akan tetapi, tangisannya sangat keras, sehingga ibunya memberi tahu kepada kepala sekolah yang menggendongnya bahwa ia menyukai Power Rangers. Setelah kepala sekolah bercerita mengenai Power Rangers, Ben menjadi lebih tenang dan tidak lagi menangis. Untung saja tangisannya berhenti, jika tidak, kaca jendela di sekolah pecah karena suaranya, ha3x ^^
Suasana di sekolah sangat berbeda dengan suasana yang selama ini dialami Ben. Ada dua orang teman sekelasnya yang selalu melakukan bullying terhadapnya. Secara fisik, tubuh Ben memang kecil dan ia adalah anak yang terkecil di kelasnya. Kedua temannya selalu memanggilnya "Si Kecil." Mereka kerap kali mengejarnya dan memukulinya, karena mereka mengidolakan tokoh dalam film dan ingin berperan seperti itu. Mereka beranggapan bahwa jika mereka bisa mengalahkan orang lain dengan kekerasan, berarti hebat, seperti pada film yang mereka tonton.
Perlakuan teman-teman membuat Ben enggan untuk masuk sekolah. Namun, ibunya selalu menyuruhnya untuk pergi sekolah. Suka tidak suka, ia tetap mengikuti sekolah dengan terpaksa. Ia hampir tidak pernah merasa senang selama di sekolah. Dalam pikirannya selalu terlintas ia akan di-bully pada jam pulang sekolah jika belum menemukan orangtuanya. Di sekolah, Ben pernah bermain dengan seorang teman yang lebih besar daripadanya. Teman tersebut memegang kedua pergelangan tangannya, ia memutar-mutar Ben sampai Ben tidak dapat menginjakkan kakinya ke tanah. Selanjutnya, kedua tangannya dilepas. Bagian perut Ben pun terbentur batu dan ia menangis keras.
Umumnya, masa-masa TKK adalah masa yang menggembirakan bagi seorang anak. Tidak ada pelajaran yang berat. Mereka masih dapat menikmati waktu luangnya dengan bermain. Pekerjaan-pekerjaan rumah yang diberikan pun tidak sulit untuk dikerjakan. Sayangnya, masa TKK Ben diwarnai dengan masa-masa kelam. Ia hampir tidak pernah merasakan kegembiraan di sekolah. Ia pun enggan bercerita mengenai masalah di sekolah kepada orangtuanya, karena ayahnya selalu memarahinya jika ia mengatakan bullies (teman-teman yang melakukan bullying) sebagai "musuh." Ibunya enggan untuk mendengarkannya, karena Ben sangat sering menceritakannya. Guru-guru di sekolah pun justru melabel Ben dengans ebutan "anak nakal." Ia adalah anak yang selalu disalahkan jika terjadi bullying, karena para guru beranggapan teman-temannya tidak mungkin menyerangnya jika ia tidak melakukan sesuatu. Kenyataannya, setiap hari ia di-bully. Ben pun tidak tahu harus bercerita kepada siapa, tidak ada orang yang melindunginya. Ia hanya dapat memendam perasaan marahnya dalam diri.
Bersambung . . .
No comments:
Post a Comment