Agar Ben dapat bertahan dalam pelajaran matematika, ia diajari oleh ayahnya. Sayangnya, ayah Ben mampu memahami pelajaran-pelajaran Ben, kecuali musik dan komputer. Hal ini membuat ayah Ben mengajarkannya matematika, karena Ben belum dapat belajar sendiri dalam pelajaran tersebut.
Suasana selama belajar matematika dengan ayahnya sama sekali tidak menyenangkan bagi Ben. Ayahnya memang tidak banyak menuntut harus mendapatkan nilai dengan standar yang tinggi. Namun, ayah Ben seringkali memarahinya jika Ben mendapat nilai yang buruk saat mengerjakan tugas-tugasnya. Sebelumnya saya minta maaf jika kata-kata kasar keluar saat menceritakan hal ini, karena memang benar kejadiannya seperti itu. Dalam suasana itu, Ben selalu dikatakan "bodoh," "goblok," "bego," dan "tolol." Ayahnya pun tidak segan-segan menyentak kepala Ben atau memukul kepalanya hingga ia menangis. Saat mengajar pun, ayah Ben seringkali melempar pulpen ke hadapannya dan membentaknya jika ia melakukan kesalahan. Peristiwa ini terus terulang selama SD.
Tidak hanya "menyerang" Ben secara verbal dan fisik. Semua akses hiburan Ben benar-benar dibatasi ayahnya. Ia tidak diperbolehkan bermain game sama sekali. Jika ayahnya melihat Ben menonton televisi sekalipun, tatapan ayah Ben menjadi sinis dan segera mematikan televisi. Ben yang sejak awal tidak menyukai matematika pun semakin merasa tertekan, serta MEMBENCI matematika dan ayahnya.
Ternyata tidak hanya matematika, ayah Ben juga selalu menuntut Ben untuk mampu berbahasa Mandarin. Beliau pun mengajarkannya dengan cara yang sama. Namun, Ben masih lebih mudah memahami Bahasa Mandarin daripada matematika, sehingga kekerasan yang terjadi tidak sesering saat belajar matematika.
![]() |
Kisah Ben dalam pelajaran matematika dan musik terjadi selama jenjang SD dari kelas 3 sampai kelas 6. Pelajaran yang ia kuasai adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Seni Lukis, serta Prakarya. Sayangnya pelajaran Prakarya tidak lagi diberikan sejak Ben kelas 3 SD. Ketertarikannya pada pelajaran-pelajaran di sekolah pun hanya terbatas pada pelajaran IPA, IPS, dan Seni Lukis. Dalam bidang lainnya, prestasi Ben tidak sebaik dalam ketiga pelajaran tersebut.
Saat Ben menduduki kelas 6 SD, ia pun tidak menyukai guru walinya. Guru wali Ben seringkali membanding-bandingkan prestasi para murid di kelasnya (Kelas A) dengan prestasi murid-murid di kelas lain (Kelas B). Akibatnya, murid-murid Kelas B tidak memandang murid-murid Kelas A, sehingga mereka terkesan sombong. Para murid dari masing-maisng kelas itu pun tidak ada yang akrab satus ama lain. Murid-murid Kelas A selalu diberitahu oleh guru walinya bahwa ada seorang murid di kelas B yang sangat pandai, seharusnya mereka memintanya untuk mengajarkan materi yang tidak dimengerti. Beliau juga menekankan, "Dia pasi mau ajarin kok." Pertanyaannya sekarang, "Jika para murid tidak saling akrab karena terus dibandingkan, apakah mereka mau masuk ke kelas anak-anak yang tidak memandang mereka meskipun hanya untuk memintanya untuk mengajarkan?"
Seperti di kisah-kisah sebelumnya, Ben memang mengalami bullying oleh Toni dan Ren selama SD. Namun, peran guru-guru SD dalam kasus ini bukan sebagai pihak yang melindungi Ben, tetapi justru menghancurkannya secara tidak langsung. Awalnya, Ben melaporkan kepada guru bahwa ia dikejar-kejar dan dipukuli oleh mereka saat kelas 1 SD. Setelah beberapa kali melaporkan, ia justru yang dikatakan sebagai "anak nakal." Guru tersebut hanya menilai dari perilaku murid-muridnya di kelas. Sayangnya, Beliau tidak mengamati perilakunya di luar kelas. Akibatnya, ia hanya melihat sisi baik Toni dan Ren yang ibaratnya memasang "topeng" di dalam kelas. Mereka pun terkesan sebagai anak yang manis dan pintar. Sementara Ben? Nilainya tidak sebaik mereka, tetapi ia yang dianggap nakal karena dianggap "mengadukan temannya" untuk menutupi kesalahannya. Akhirnya, guru pun tidak pernah ingin mendengarkan cerita Ben. Ia pun tidak tahu harus bercerita kepada siapa jika mengalami masalah. Orangtuanya tidak ingin ia membalas perbuatan teman-temannya, sementara guru tidak percaya kepadanya. Toni dan Ren adalah teman sekelasnya, sehingga Ben tidak dapat memercayai teman sekelas lainnya. Ia pun mulai berkembang sebagai anak yang cenderung menarik diri dari pergaulan.
Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Memang istilahnya adalah "guru" saat di sekolah. Namun, peran mereka yang sebenarnya adalah sebagai "pendidik" yang menggantikan orangtua saat anak berada di sekolah. Dengan demikian, tugas seorang guru tidak hanya sekadar mengajarkan materi. Materi dapat dicari dimanapun, ditambah lagi terdapat banyak media yang dapat digunakan untuk belajar. Akan tetapi, tidak semua orang dapat menjadi pendidik yang baik. Sebagai seorang pendidik, seorang guru akan lebih mampu mengembangkan potensi muridnya jika benar-benar mengenalnya. Sebagai contoh, seorang guru yang memahami alasan-alasan dari perilaku anak akan menjadi pendidik yang lebih efektif. Dengan pengetahuan itu, seorang guru tidak akan serta merta melabel seorang anak dengan perkataan tertentu, misalnya "nakal," "bodoh," "kurang ajar," "tukang nyontek," dan masih banyak lagi. Untuk memahami seorang anak diperlukan keinginan yang kuat dan diwujudkan dengan memerhatikan dan berinteraksi dengan si anak. Dengan demikian, murid akan percaya dan terbuka kepada guru. Ia pun tidak akan ragu untuk mengatakan apa saja kesulitannya saat di sekolah dan apa saja yang membuatnya tidak nyaman. Sebagai pribadi yang lebih dewasa, seorang guru tentu mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Bersambung . . .

No comments:
Post a Comment