Suatu hari, tepatnya hari Kamis, Jono tidak dapat menemukan HP yang disimpannya di loker kelas. Hari Kamis adalah hari dengan jam pelajaran olahraga. Oleh karena itu, setiap siswa dihimbau menyimpan barang-barang berharganya di sana. Setiap hari Kamis pula Ben sengaja tidak membawa HP-nya, untuk mengantisipasi kehilangan barang berharga. Baiklah, kembali ke Jono. HP Jono memang hilang pada ia selesai berolahraga. Anehnya, hanya HP-nya saja yang hilang. Akan tetapi, barang-barang berharga lain kepunyaannya dan teman-teman lain masih ada. Ia tampak resah dan segera melaporkannya kepada guru.
Guru yang mendengar kasus Jono benar-benar terkejut dan langsung memasuki kelas. Beliau meminta setiap murid memeriksa tas masing-masing untuk memastikan tidak ada lagi yang kehilangan. Hal itu juga dilakukan untuk mencari apakah ada HP Jono di dalam tas semua murid. Sayangnya, tidak satu pun murid yang berhasil menemukan HP Jono. Guru itu terlihat bingung dan segera keluar.
Tidak lama kemudian, guru BK, Bu Tika dan Bu Shifa (Guru Wali) datang ke kelas. Mereka meminta setiap murid membawa tasnya ke hadapan mereka. Selanjutnya, mereka memeriksa tas itu sendiri apakah terdapat HP Jono atau tidak. Hasilnya tetap sama, NOL BESAR... tidak ada HP yang ditemukan dalam tiap tas yang mereka periksa. Sekali lagi, mereka keluar dari kelas. Beberapa saat kemudian, seorang guru masuk ke kelas dan mengumumkan tidak akan ada pelajaran yang diberikan selama belum ada murid yang mengakui kesalahannya. Tentu saja hak setiap murid untuk diberi pelajaran hilang pada saat itu. Keesokan harinya suasana kelas masih sama seperti sebelumnya. Hanya ada beberap guru saja yang masuk memberikan materi pelajaran. Sementara itu, guru-guru lain sama sekali tidak masuk ke kelas untuk mengajar.
| https://breezometer.com/beyond-blame/ |
Tidak ada guru yang masuk ke kelas membuat suasana kelas menjadi tegang dan sangat sunyi. Suasana di kelas membuat Ben merasa tidak ada maknanya untuk datang ke sekolah. Selama beberapa hari ia hanya datang membawa buku pelajaran sambil termenung. Kondisi ini berlangsung hingga 1 minggu lamanya. Murid-murid selain Ben mulai dapat menerima masalah yang terjadi, mereka pergi ke kantin, bermain, dan mengobrol sepanjang jam sekolah. Kesannya memang tidak ada aktivitas yang dilakukan oleh para murid, tetapi situasinya sangat berbeda jika dilihat dari pandangan para guru. Mereka begitu sibuk memikirkan cara untuk mengatasi masalah pencurian HP hingga suasana hati mereka terpengaruh. Mereka pun mudah marah apabila murid dari kelas Ben melakukan tindakan yang tidak dikehendaki, misalnya mengobrol selama pelajaran atau tidak fokus saat belajar.
Bersambung . . .
No comments:
Post a Comment