Setelah kegiatan MOS selesai, para siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing di hari berikutnya. Di kelas, Ben bertemu dengan banyak teman-teman baru. Namun, teman-teman yang selama ini melakukan bullying tidak ada di kelasnya, sehingga Ben merasa lebih tenang, sebuah nuansa baru dalam kehidupan bersekolah Ben. Di kelas X SMA, Ben tetap sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia terkesan sebagai anak yang pendiam dan tidak terlalu suka bergaul.
Di kelas X, Ben mendapatkan kesempatan emas untuk menikmati waktu-waktunya untuk merasa sebagai "siswa sebenarnya." Selama ini ia tidak pernah peduli apabila orang lain mengatakan "sekolah itu masa-masa yang paling menyenangkan," karena ia selalu di-bully. Sekarang, ia merasakan seperti apa kehidupan seorang siswa jika tidak mengalami bullying. Tentu saja situasinya sangat berbeda dan menuntut penyesuaian pula. Ben yang biasanya di-bully menjadi tidak tahu apa yang dapat ia lakukan selama istirahat selain makan siang dan pergi ke toilet. Saat ingin bergaul, Ben melihat ke sekelilingnya, semua temannya membentuk kelompok-kelompok terpisah. Jika ada orang lain yang masuk ke kelompok itu, mereka tentu tidak dipdulikan, seperti yang dirasakan Ben saat mencoba mengobrol dalam satu kelompok. Saat itu, justru ada satu teman dalam kelompok itu yang bersikap sinis, seolah ingin Ben meninggalkan kelompoknya. Padahal, ia duduk di tempat Ben. Sejak peristiwa itu, ia langsung menghindar jika melihat kelompok tersebut sudah menempati tempat duduknya. Ben pun lagi-lagi menjadikan perpus sebagai tempat pelariannya.
Selama kelas X, tidak ada konflik besar yang terjadi, justru ia mendapatkan seorang teman baik yang baru di kelasnya, yaitu Susi, Brian, Dodi, dan Gana. Sebelumnya, Ben sudah mengenal Gana sejak SMP, hanya saja mereka baru mulai dekat di kelas X. Namun, Ben baru mengenal dan dekat dengan Brian dan Dodi. Secara keseluruhan, mereka semua lebih pandai daripada Ben dalam pelajaran yang bersifat hitungan dan pelajaran olahraga. Di kelas X ini, Ben sangat beruntung, pelajaran Seni kembali dipecah menjadi 4 cabang seperti sebelumnya, hanya saja "Seni Lukis" diubah menjadi "Seni Rupa." Ben pun memilih untuk mendalami kemampuannya dalam Seni Rupa.
Sayangnya, kesenangan Ben berakhir dalam periode yang singkat. Beberapa hari saat memasuki semester 2, ia terkena penyakit cacar air. Penyakit ini membuatnya harus istirahat di rumah selama kurang lebih dua minggu. Meskipun ia beristirahat 2 minggu, tanda-tanda cacar airnya yang sudah kering masih ada, sehingga terdapat beberapa teman yang merasa jijik. Sebenarnya Ben tidak ingin masuk sekolah karena ia takut menjadi bahan olokkan, tetapi ibunya tetap memintanya masuk, agar tidak tertinggal pelajaran. Dugaan Ben Benar. Baru satu hari ia masuk, tiba-tiba ada seorang siswa yang pernah tinggal kelas (Gio) "Eh (...... Bagian ini saya beri titik-titik, karena kata ini terlalu kasar jika diucapkan)! Kalo masih sakit, pulang aja lu! Nularin aja!" Ben yang tegah menahan perasaan malu pun meneriakkan kata itu kembali tanpa peduli ia senior maupun bukan. Teman-teman lainnya pun segera menjauhkan mereka agar tidak sampai berkelahi.
![]() |
Dua minggu tidak masuk sekolah memang sangat terasa, Ben benar-benar mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran hitungan seperti matematika, fisika, dan kimia (MaFiA - Tahu singkatan ini kan?), serta akuntansi. Di semester 2 ini pun ia mulai banyak terkena remedial, karena nilai-nilai ulangannya berada di bawah standar. Semakin mendekati akhir tahun ajaran, nilai Mafia semakin rendah mendekati stabil, wkwkwwkk. Namun, nilai-nilai Ben dalam bidang IPS tetap seperti sebelumnya. Dengan demikian, Ben memenuhi syarat untuk memilih jurusan IPS di kelas XI. Sejak awal masuk SMA, Ben merasakan kehidupan sebenarnya sebagai seorang siswa "tanpa di-bully." Ia pun merasa tenang dan berharap dua tahun berikutnya suasana di sekolah akan tetap sama.
Bersambung . . .

No comments:
Post a Comment