Setelah lulus SD, Ben masih sedikit kuatir jika ia mendapatkan pelajaran musik di jenjang setelah SD, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ternyata, kurikulum yang diterapkan pada SMP di sekolah Ben sangat berbeda dengan Ben masih SD dan SMP-SMP lainnya. Saat kelas VII SMP, pelajaran Seni memang ada, tetapi pelajaran itu dipecah menjadi empat cabang pilihan, yaitu, Seni Lukis, Seni Suara, Seni Musik, dan Seni Tari. Bagi Anda yang pernah membaca kisah-kisah Ben sebelum kisah dalam halaman ini tentu tahu cabang mana yang menjadi pilihan Ben, bukan?
Guru pun meminta tiap siswa untuk menuliskan dua cabang seni yang diminati. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi jika kelas pda satu cabang seni terlalu penuh, siswa tersebut masih dapat mengikuti cabang seni lain yang disukainya. Ben sama sekali tidak mengetahui seperti apa pelajaran Seni Suara dan Seni Tari, Ia pun tidak berminat pada keduanya. Pilihan yang tersisa baginya adalah Seni Lukis dan Seni Musik. Ia tidak ragu lagi untuk menuliskan Seni Lukis pada urutan pertamanya. Akan tetapi Ben terpaksa menuliskan Seni Musik pada urutan kedua.
Selanjutnya, para siswa diminta mengikuti para guru seni sesuai dengan cabang pertamanya. Ben pun menetap di kelas bersama teman-teman yang memilih Seni Lukis, karena guru Seni Lukis akan mengajar di ruang kelas Ben. Setelah Pak Oja mengenalkan dirinya, selaku guru Seni Lukis, Beliau mulai mengajarkan satu teori dasar untuk Seni Lukis, yaitu "Cakram Warna Brewsters." Bagi yang pernah belajar dalam kelas Seni Lukis, tentu mengenal teori ini kan? Hehe. Ini adalah pertama kalinya Ben dapat memahami materi pelajaran seni dengan cepat. Selama SD ia hanya diajarkan musik secara khusus dan ia tidak memahaminya, sedangkan seni lukis hanya praktiknya saja. Ternyata, ia mampu memahami teori dalam seni lukis, meskipun hanya satu teori dasar saja.
![]() |
Tidak disangka.... setelah selesai mengajar, guru Seni Lukis memberikan semacam "ulangan mendadak" untuk mengeliminasi siswa siswi yang tidak berhasil. Hal ini dilakukan karena kelas Seni Lukis berisi banyak siswa, sehingga beberapa siswa perlu dipindahkan ke cabang seni lain. Saat mengetahui adanya semacam "TES ELIMINASI." Ben sangat terkejut dan berbicara pada dirinya sendiri dalam pikiran, "Pokoknya, aku ga boleh gagal. Aku GAK MAU masuk ke pelajaran musik lagi." Setelah tes eliminasi, Ben tidak termasuk ke dalam golongan siswa yang harus dipindahkan ke cabang seni lain. Ben lulus karena jawaban-jawabannya benar, sehingga ia tidak dipindahkan. Pilihan itu pun ternyata akan menetap sampai Ben lulus SMP. Dengan demikian, Ben tidak lagi belajar Seni Musik secara khusus. Akhirnya, ia mulai terlepas dari musik.
Ben sama sekali tidak menyangka, pada akhirnya ia mendapatkan peluang untuk mulai mengeksplorasi minatnya dengan lebih mendalam. Baik Seni Lukis, maupun Desain Grafis, nilai maksimum yang diberikan guru adalah 80. Awalnya, Ben hanya dapat meraih nilai antara 60-70, karena ia belum benar-benar terbiasa menerapkan teori yang diajarkan ke dalam karya seninya. Para siswa lainnya pun juga mengatakan mereka kurang bermurah hati saat memberikan nilai. Ditambah lagi, Bu Susi selalu mengingatkan "Jangan ada yang gambar bunga ya, cari yang lain. Gak kreatif amat, saya udah bosen bolak-balik dari SD disuruh gambar bunga, trus anak sekarang juga pada gambar bunga. Bosen."
Walaupun kedua gurunya dikatakan kurang bermurah hati saat memberi nilai, Ben tidak langsung menyerah. Hal ini terjadi karena ia merasakan gairah yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dalam bidang seni. Ben pun tidak langsung menyerah, tetapi mencoba membuat karya yang lebih indah. Kedua guru dalam dua pelajaran itu pun tidak "segalak" guru musik saat Ben menduduki kursi SD, sehingga ia dapat beradaptasi dengan lebih baik.
Tidak disangka, Pak Oja dan Bu Susi dipindahtugaskan ke sekolah lain saat Ben naik ke kelas VIII. Mereka pun digantikan dengan seorang guru yang memang berlatar belakang pendidikan Desain Grafis. Beliau bernama Pak Emon. Pak Emon dapat dikatakan lebih bermurah hati saat memberikan nilai (berdasarkan keterangan para murid SMP). Tidak hanya itu, Pak Emon sama sekali tidak membatasi para muridnya untuk berkreasi. Ia akan membatasi kreativitas itu jika sudah sampai menentang norma. Salahs atu contohnya, ia menolak karya-karya yang menggunakan foto wanita mengenakan gaun yang sedikit terbuka. Selain itu, Beliau selalu meminta setiap murid untuk mempresentasikan konsep yang akan diterapkan dalam karya masing-masing sebelum dibuat. Tujuannya adalah untuk memberikan masukan-masukan, sehingga konsep itu akan lebih bagus untuk dilakukan.
Sejak Pak Emon mengajar di sekolah Ben, Ben tidak lagi mengalami rasa takut untuk mengekspresikan dirinya dalam bidang seni, karena Pak Emon tidak membatasi kreativitas para siswanya. Ia pun tidak ragu untuk mencampurkan cat-catnya untuk menghasilkan warna berbeda. Ia juga tidak ragu untuk menyapukan kuasnya yang sudah dilumuri cat ke atas kanvas. Meskipun karyanya belum benar-benar bagus, ia tetap tidak kehilangan minatnya pada Seni Rupa dan Desain Grafis. Ben justru semakin merasa senang dalam kedua bidang itu dan merasa sudah merasa seni sebagai bagian dari dirinya.
Bersambung . . .


