Tumblr Mouse Cursors

Wednesday, 30 December 2015

It's My Art!

lighthouse8.com

Setelah lulus SD, Ben masih sedikit kuatir jika ia mendapatkan pelajaran musik di jenjang setelah SD, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ternyata, kurikulum yang diterapkan pada SMP di sekolah Ben sangat berbeda dengan Ben masih SD dan SMP-SMP lainnya. Saat kelas VII SMP, pelajaran Seni memang ada, tetapi pelajaran itu dipecah menjadi empat cabang pilihan, yaitu, Seni Lukis, Seni Suara, Seni Musik, dan Seni Tari. Bagi Anda yang pernah membaca kisah-kisah Ben sebelum kisah dalam halaman ini tentu tahu cabang mana yang menjadi pilihan Ben, bukan?

Guru pun meminta tiap siswa untuk menuliskan dua cabang seni yang diminati. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi jika kelas pda satu cabang seni terlalu penuh, siswa tersebut masih dapat mengikuti cabang seni lain yang disukainya. Ben sama sekali tidak mengetahui seperti apa pelajaran Seni Suara dan Seni Tari, Ia pun tidak berminat pada keduanya. Pilihan yang tersisa baginya adalah Seni Lukis dan Seni Musik. Ia tidak ragu lagi untuk menuliskan Seni Lukis pada urutan pertamanya. Akan tetapi Ben terpaksa menuliskan Seni Musik pada urutan kedua.

Selanjutnya, para siswa diminta mengikuti para guru seni sesuai dengan cabang pertamanya. Ben pun menetap di kelas bersama teman-teman yang memilih Seni Lukis, karena guru Seni Lukis akan mengajar di ruang kelas Ben. Setelah Pak Oja mengenalkan dirinya, selaku guru Seni Lukis, Beliau mulai mengajarkan satu teori dasar untuk Seni Lukis, yaitu "Cakram Warna Brewsters." Bagi yang pernah belajar dalam kelas Seni Lukis, tentu mengenal teori ini kan? Hehe. Ini adalah pertama kalinya Ben dapat memahami materi pelajaran seni dengan cepat. Selama SD ia hanya diajarkan musik secara khusus dan ia tidak memahaminya, sedangkan seni lukis hanya praktiknya saja. Ternyata, ia mampu memahami teori dalam seni lukis, meskipun hanya satu teori dasar saja.


blog.4tests.com
Tidak disangka.... setelah selesai mengajar, guru Seni Lukis memberikan semacam "ulangan mendadak" untuk mengeliminasi siswa siswi yang tidak berhasil. Hal ini dilakukan karena kelas Seni Lukis berisi banyak siswa, sehingga beberapa siswa perlu dipindahkan ke cabang seni lain. Saat mengetahui adanya semacam "TES ELIMINASI." Ben sangat terkejut dan berbicara pada dirinya sendiri dalam pikiran, "Pokoknya, aku ga boleh gagal. Aku GAK MAU masuk ke pelajaran musik lagi." Setelah tes eliminasi, Ben tidak termasuk ke dalam golongan siswa yang harus dipindahkan ke cabang seni lain. Ben lulus karena jawaban-jawabannya benar, sehingga ia tidak dipindahkan. Pilihan itu pun ternyata akan menetap sampai Ben lulus SMP. Dengan demikian, Ben tidak lagi belajar Seni Musik secara khusus. Akhirnya, ia mulai terlepas dari musik.


www.wikihow.com
Di SMP, terdapat satu pelajaran lain yang dipecah menjadi empat cabang, yaitu Keterampilan. Keempat cabangnya adalah Desain Grafis, Home Industry, Teknik Elektro, dan Tata Boga. Aturannya sama seperti pelajaran Seni, masing-masing siswa harus memilih dua cabang. Saat itu, Ben memilih Desain Grafis (karena berhubungan dengan menggambar) dan Teknik Elektro (karena manfaat dari keterampilannya). Setelah itu, Ben masuk ke kelas Bu Susi, selaku guru Desain Grafis. Lagi-lagi... Guru Keterampilan menyambut dengan cara yang sama seperti Guru Seni. sambutan yang diberikan adalah TES ELIMINASI. Tes eliminasi dalam Desain Grafis berbeda dengan Seni Lukis. Tiap siswa diminta menggambar sebaik mungkin, menggambar bebas. Ternyata, gambar Ben dan beberapa teman-temannya diterima oleh guru tersebut. Dengan demikian, ia diterima dalam kelas Desain Grafis.

Ben sama sekali tidak menyangka, pada akhirnya ia mendapatkan peluang untuk mulai mengeksplorasi minatnya dengan lebih mendalam. Baik Seni Lukis, maupun Desain Grafis, nilai maksimum yang diberikan guru adalah 80. Awalnya, Ben hanya dapat meraih nilai antara 60-70, karena ia belum benar-benar terbiasa menerapkan teori yang diajarkan ke dalam karya seninya. Para siswa lainnya pun juga mengatakan mereka kurang bermurah hati saat memberikan nilai. Ditambah lagi, Bu Susi selalu mengingatkan "Jangan ada yang gambar bunga ya, cari yang lain. Gak kreatif amat, saya udah bosen bolak-balik dari SD disuruh gambar bunga, trus anak sekarang juga pada gambar bunga. Bosen."

Walaupun kedua gurunya dikatakan kurang bermurah hati saat memberi nilai, Ben tidak langsung menyerah. Hal ini terjadi karena ia merasakan gairah yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dalam bidang seni. Ben pun tidak langsung menyerah, tetapi mencoba membuat karya yang lebih indah. Kedua guru dalam dua pelajaran itu pun tidak "segalak" guru musik saat Ben menduduki kursi SD, sehingga ia dapat beradaptasi dengan lebih baik.

Tidak disangka, Pak Oja dan Bu Susi dipindahtugaskan ke sekolah lain saat Ben naik ke kelas VIII. Mereka pun digantikan dengan seorang guru yang memang berlatar belakang pendidikan Desain Grafis. Beliau bernama Pak Emon. Pak Emon dapat dikatakan lebih bermurah hati saat memberikan nilai (berdasarkan keterangan para murid SMP). Tidak hanya itu, Pak Emon sama sekali tidak membatasi para muridnya untuk berkreasi. Ia akan membatasi kreativitas itu jika sudah sampai menentang norma. Salahs atu contohnya, ia menolak karya-karya yang menggunakan foto wanita mengenakan gaun yang sedikit terbuka. Selain itu, Beliau selalu meminta setiap murid untuk mempresentasikan konsep yang akan diterapkan dalam karya masing-masing sebelum dibuat. Tujuannya adalah untuk memberikan masukan-masukan, sehingga konsep itu akan lebih bagus untuk dilakukan.

paradigmmalibu.com

Sejak Pak Emon mengajar di sekolah Ben, Ben tidak lagi mengalami rasa takut untuk mengekspresikan dirinya dalam bidang seni, karena Pak Emon tidak membatasi kreativitas para siswanya. Ia pun tidak ragu untuk mencampurkan cat-catnya untuk menghasilkan warna berbeda. Ia juga tidak ragu untuk menyapukan kuasnya yang sudah dilumuri cat ke atas kanvas. Meskipun karyanya belum benar-benar bagus, ia tetap tidak kehilangan minatnya pada Seni Rupa dan Desain Grafis. Ben justru semakin merasa senang dalam kedua bidang itu dan merasa sudah merasa seni sebagai bagian dari dirinya.

Bersambung . . .

Melodi Pertama dan Terakhir

Setiap kali ulangan, nilai matematika dan nilai musik Ben selalu tidak sebaik nilai-nilai lainnya, khususnya nilai musik yang merupakan nilai terendah di rapornya. Sejak kelas 1 SD sampai 5 SD, sistem yang diberlakukan pada rapor adalah sistem pembagian rata-rata. Dengan demikian, kedua nilai terendah Ben masih dapat diperbaiki dengan hasil-hasil ulangan pada pelajaran lain. Hal ini menandakan bahwa Ben sangat beruntung sehingga ia dapat lulus sampai ke kelas 6.

courseweb.hopkinsschools.org

Seperti yang kita ketahui, di akhir kelas 6 ada saatnya para siswa memasuki Ujian Nasional, Ujian Sekolah, dan Ujian Praktik. Ujian yang paling dicemaskan oleh Ben adalah Ujian Praktik, karena mau tidak mau ia harus memainkan seruling dan drum agar dapat lulus dari mata pelajaran musik. Terdapat dua lagu yang disajikan untuk dimainkan dengan seruling, namun Ben hanya berhasil menguasai satu lagu. Satu lagu itu pun ia baru dapat menguasainya setelah berbulan-bulan latihan, sehingga ia kehabisan waktu untuk berlatih dengan lagu lainnya. Ben pun tidak benar-benar mengerti mengenai cara membaca notasi musik saat bermain drum. Tentu saja, hal-hal tersebut membuatnya benar-benar cemas.

Ketika ujian, Ben yang sangat cemas benar-benar berharap mendapatkan lagu yang ia kuasai. Hari itu ia SANGAT BERUNTUNG! Hari itu, ia mendapatkan lagu yang ia kuasai, sehingga ia dapat memainkan lagu itu dengan kemampuannya, walaupun ia tidak dapat memainkan sebaik teman-temannya. Ketika bermain dengan drum, Ben hanya dapat memerkirakan bagaimana memainkannya, meskipun ia tidak benar-benar mengerti. Selebihnya, ia hanya dapat berharap. Ujian-ujian selain musik, termasuk matematika ia dapat mengerjakannya dengan baik. Walaupun hanya ada satu pelajaran yang membuatnya cemas, yaitu musik, pelajaran ini sudah cukup membuat Ben takut untuk tinggal kelas.
www.mmea-maryland.org

Meskipun periode ujian sudah selesai, Ben masih mengalami kecemasan dalam dirinya. Ia membayangkan teman-temannya menghilang satu per satu sampai ia menjadi satu orang terakhir di sebuah tempat yang gelap. Dari tempat gelap itu, ia dapat melihat seberkas cahaya. Teman-temannya pun berada di tempat yang terang itu. Sekalipun Ben berjalan atau berlari ke arah cahaya itu, ia hanya akan semakin jauh. Ben hanya meratapi nasibnya sendiri di dalam kegelapan. Bayangan inilah yang selalu ada dalam pikiran Ben sejak memasuki periode ujian, bahkan bayangan ini tetap ada saat ujian sudah selesai. Ia merasa sendirian, merasa tidak mampu melakukan apapun, tidak percaya diri, dan menyesali dirinya tidak memiliki kemampuan dalam bidang musik.

www.flickr.com

Setelah sekian lama menunggu, pengumuman hasil ujian pun keluar. Ben yang sangat cemas pada hari pengumuman hanya bersikap pasrah dan datang ke sekolah. Ternyata.... Ia tetap LULUS! Ben sama sekali tidak menyangka, ia pun merasa sangat lega. Seolah-olah beban pikirannya terlepas. Bayangan dirinya dalam kegelapan pun berubah menjadi terang, ia tidak lagi membayangkan dirinya seorang diri di tempat gelap. Akhirnya, Ben pun mendapatkan ijazah SD-nya dan dapat melanjutkan ke jenjang SMP. 

Selama ini, ia selalu menyerah terhadap musik, ia juga selalu merasa takut dengan pelajaran musik. Ia pun selalu mengatakan "tidak bisa" saat ulangan pelajaran musik, sehingga ia terpaksa selalu mencari alasan agar tidak bermain musik selama ulangan musik. Akan tetapi, keinginannya untuk tidak ingin tinggal kelas telah mendorongnya untuk terus berusaha. Walaupun dengan sedikit keberuntungan saat ujian praktik, Ben dapat lulus tanpa melakukan kecurangan sama sekali. Rasa percaya dirinya pun mulai kembali setelah berhasil memainkan kedua melodi saat ujian praktik. Kedua melodi itu adalah melodi pertama dan terakhir yang pernah ia mainkan selama SD, yang menuntunnya untuk lulus.

volcksonia.deviantart.com

Bersambung . . .


Thursday, 24 December 2015

Guru Sekolah Dasar

Kisah selama Ben menempuh pendidikan di Sekolah Dasar tidak hanya diwarnai intrik-intrik dalam hubungannya dengan teman. Kisah Ben pun penuh diwarnai dengan peran guru-gurunya. Secara umum, guru-guru Ben adalah orang yang baik. Namun, terdapat beberapa guru yang tidak ia sukai. Penyebabnya bukan hanya sekadar ia sering dimarahi, tetapi alasan mengapa ia dimarahi. Alasan tersebut merupakan alasan yang tidak dapat diterima oleh Ben sama sekali. Salah satu guru yang tidak ia sukai pun sempat menjadi guru walinya sebanyak dua kali, berarti ia bersama dengan guru ini selama 2 tahun ajaran.


www.marcofolio.net
Ben bukanlah anak yang sepandai teman-teman lainnya. Nilai-nilainya dapat dikatakan baik, tetapi ia sulit mendapatkan nilai yang baik untuk mata pelajaran matematika dan seni musik. Meskipun ia belajar berkali-kali, ia tidak mudah untuk memahami kedua pelajaran itu. Dalam pelajaran matematika, Ben hanya perlu meningkatkan ketelitiannya. Suatu saat Ben mendapatkan nilai yang baik karena ia memeriksa ulangannya berulang-ulang. Sayangnya, guru walinya (salahs atu guru yang tidak ia sukai) malah mengatakan "Ini aneh lho, biasanya dia dapet nilai jelek, sekarang kok jadi bagus. Temennya juga begitu. Pasti ini kerja sama." di dalam kelas, di hadapan para muridnya. Saat itu, kepercayaan diri Ben yang mulai meningkat kembali hancur, karena ia tidak menyontek. Akhirnya, ia bertahan untuk belajar matematika hanya sebagai kewajibannya dan kehilangan minatnya dalam bidang matematika. 

Agar Ben dapat bertahan dalam pelajaran matematika, ia diajari oleh ayahnya. Sayangnya, ayah Ben mampu memahami pelajaran-pelajaran Ben, kecuali musik dan komputer. Hal ini membuat ayah Ben mengajarkannya matematika, karena Ben belum dapat belajar sendiri dalam pelajaran tersebut. 

Suasana selama belajar matematika dengan ayahnya sama sekali tidak menyenangkan bagi Ben. Ayahnya memang tidak banyak menuntut harus mendapatkan nilai dengan standar yang tinggi. Namun, ayah Ben seringkali memarahinya jika Ben mendapat nilai yang buruk saat mengerjakan tugas-tugasnya. Sebelumnya saya minta maaf jika kata-kata kasar keluar saat menceritakan hal ini, karena memang benar kejadiannya seperti itu. Dalam suasana itu, Ben selalu dikatakan "bodoh," "goblok," "bego," dan "tolol." Ayahnya pun tidak segan-segan menyentak kepala Ben atau memukul kepalanya hingga ia menangis. Saat mengajar pun, ayah Ben seringkali melempar pulpen ke hadapannya dan membentaknya jika ia melakukan kesalahan. Peristiwa ini terus terulang selama SD.

Tidak hanya "menyerang" Ben secara verbal dan fisik. Semua akses hiburan Ben benar-benar dibatasi ayahnya. Ia tidak diperbolehkan bermain game sama sekali. Jika ayahnya melihat Ben menonton televisi sekalipun, tatapan ayah Ben menjadi sinis dan segera mematikan televisi. Ben yang sejak awal tidak menyukai matematika pun semakin merasa tertekan, serta MEMBENCI matematika dan ayahnya.

Ternyata tidak hanya matematika, ayah Ben juga selalu menuntut Ben untuk mampu berbahasa Mandarin. Beliau pun mengajarkannya dengan cara yang sama. Namun, Ben masih lebih mudah memahami Bahasa Mandarin daripada matematika, sehingga kekerasan yang terjadi tidak sesering saat belajar matematika.



graphicriver.net
Sayangnya, Ben sudah menyerah untuk belajar seni musik. Berapa kalipun diajarkan, ia tetap tidak mampu memahaminya. Guru musiknya pun selalu memarahinya karena ia tidak berprestasi sebaik teman-temannya. Saat SD ini, minat Ben untuk belajar musik sudah menghilang karena ia sudah tidak percaya diri lagi.

Kisah Ben dalam pelajaran matematika dan musik terjadi selama jenjang SD dari kelas 3 sampai kelas 6. Pelajaran yang ia kuasai adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Seni Lukis, serta Prakarya. Sayangnya pelajaran Prakarya tidak lagi diberikan sejak Ben kelas 3 SD. Ketertarikannya pada pelajaran-pelajaran di sekolah pun hanya terbatas pada pelajaran IPA, IPS, dan Seni Lukis. Dalam bidang lainnya, prestasi Ben tidak sebaik dalam ketiga pelajaran tersebut.

Saat Ben menduduki kelas 6 SD, ia pun tidak menyukai guru walinya. Guru wali Ben seringkali membanding-bandingkan prestasi para murid di kelasnya (Kelas A) dengan prestasi murid-murid di kelas lain (Kelas B). Akibatnya, murid-murid Kelas B tidak memandang murid-murid Kelas A, sehingga mereka terkesan sombong. Para murid dari masing-maisng kelas itu pun tidak ada yang akrab satus ama lain. Murid-murid Kelas A selalu diberitahu oleh guru walinya bahwa ada seorang murid di kelas B yang sangat pandai, seharusnya mereka memintanya untuk mengajarkan materi yang tidak dimengerti. Beliau juga menekankan, "Dia pasi mau ajarin kok." Pertanyaannya sekarang, "Jika para murid tidak saling akrab karena terus dibandingkan, apakah mereka mau masuk ke kelas anak-anak yang tidak memandang mereka meskipun hanya untuk memintanya untuk mengajarkan?"


betanews.com

Seperti di kisah-kisah sebelumnya, Ben memang mengalami bullying oleh Toni dan Ren selama SD. Namun, peran guru-guru SD dalam kasus ini bukan sebagai pihak yang melindungi Ben, tetapi justru menghancurkannya secara tidak langsung. Awalnya, Ben melaporkan kepada guru bahwa ia dikejar-kejar dan dipukuli oleh mereka saat kelas 1 SD. Setelah beberapa kali melaporkan, ia justru yang dikatakan sebagai "anak nakal." Guru tersebut hanya menilai dari perilaku murid-muridnya di kelas. Sayangnya, Beliau tidak mengamati perilakunya di luar kelas. Akibatnya, ia hanya melihat sisi baik Toni dan Ren yang ibaratnya memasang "topeng" di dalam kelas. Mereka pun terkesan sebagai anak yang manis dan pintar. Sementara Ben? Nilainya tidak sebaik mereka, tetapi ia yang dianggap nakal karena dianggap "mengadukan temannya" untuk menutupi kesalahannya. Akhirnya, guru pun tidak pernah ingin mendengarkan cerita Ben. Ia pun tidak tahu harus bercerita kepada siapa jika mengalami masalah. Orangtuanya tidak ingin ia membalas perbuatan teman-temannya, sementara guru tidak percaya kepadanya. Toni dan Ren adalah teman sekelasnya, sehingga Ben tidak dapat memercayai teman sekelas lainnya. Ia pun mulai berkembang sebagai anak yang cenderung menarik diri dari pergaulan.

Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Memang istilahnya adalah "guru" saat di sekolah. Namun, peran mereka yang sebenarnya adalah sebagai "pendidik" yang menggantikan orangtua saat anak berada di sekolah. Dengan demikian, tugas seorang guru tidak hanya sekadar mengajarkan materi. Materi dapat dicari dimanapun, ditambah lagi terdapat banyak media yang dapat digunakan untuk belajar. Akan tetapi, tidak semua orang dapat menjadi pendidik yang baik. Sebagai seorang pendidik, seorang guru akan lebih mampu mengembangkan potensi muridnya jika benar-benar mengenalnya. Sebagai contoh, seorang guru yang memahami alasan-alasan dari perilaku anak akan menjadi pendidik yang lebih efektif. Dengan pengetahuan itu, seorang guru tidak akan serta merta melabel seorang anak dengan perkataan tertentu, misalnya "nakal," "bodoh," "kurang ajar," "tukang nyontek," dan masih banyak lagi. Untuk memahami seorang anak diperlukan keinginan yang kuat dan diwujudkan dengan memerhatikan dan berinteraksi dengan si anak. Dengan demikian, murid akan percaya dan terbuka kepada guru. Ia pun tidak akan ragu untuk mengatakan apa saja kesulitannya saat di sekolah dan apa saja yang membuatnya tidak nyaman. Sebagai pribadi yang lebih dewasa, seorang guru tentu mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.


Bersambung . . .

Thursday, 9 July 2015

Warna

Erat sekali kaitan warna dengan lukisan. Berbagai macam warna akan menentukan seperti apa lukisan yang dihasilkan. Saat melukis, berbagai macam warna seringkali dipadukan untuk menciptakan nuansa dalam lukisan. Ada warna-warna yang menjadi harmonis bila dipadukan, ada pula yang tidak. Meskipun ada banyak warna dalam luksian, setiap warna tersebut akan tampak sebagai kesan. Sama halnya dengan kehidupan seorang anak. Bayangkan bahwa nilai-nilai moral adalah warna-warna yang akan digunakan untuk menghias kanvas. Setiap nilai yang ditanamkan pada anak akan tercermin dari perilaku-perilaku anak dalam lingkungannya. Perilaku-perilaku ini merupakan kesan yang tampak dari nilai-nilai yang sudah ditanamkan dalam diri anak.

Toni dan Ren adalah dua orang anak berusia 4 tahun yang selalu mengganggu Ben selama di sekolah. Mereka berdua menyukai film yang bertema kekerasan. Dalam keluarganya, aturan tidak benar-benar ditegakkan. Jika ada orangtua murid lain yang mengatakan Toni atau Ren mengganggu anak lainnya, kedua orangtua mereka hanya mengatakan "Itu cuma main-main, biasa lah namanya juga anak-anak" Mereka bahkan masih tersenyum kepada anaknya dan hanya mengatakan "minta maaf ya" tanpa memberikan masukan bagi anaknya. Toni dan Ren tidak menganggap orangtuanya sebagai otoritas, tetapi sebagai teman yang mendukung mereka. Bagi Toni dan Ren tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi mereka mendapatkan keinginannya.

Apapun keinginan Toni dan Ren mudah sekali didapatkan, karena orangtuanya selalu memberikan apa yang diinginkan. Ketika di sekolah, mereka bebas melakukan segalanya, termasuk mengganggu Ben. Ben adalah anak yang terkecil di kelas, sangat mudah untuk dijadikan target oleh Toni dan Ben. Ben dianggap sebagai monster yang harus dikalahkan, seperti dalam film yang mereka tonton. Di dalam film yang mereka tonton, monster adalah sosok yang harus dikalahkan. Selama menonton, mereka juga tidak pernah didampingi orang yang lebih dewasa untuk menjelaskan dan mengoreksi kesalahan mereka dalam berlogika. Akibatnya, mereka beranggapan kekerasan diperbolehkan "untuk membela kebenaran," tanpa ada yang meluruskan pandangan mereka. Ben ditempatkan sebagai monster karena ia kecil dan mudh dikalahkan oleh mereka yang bertubuh lebih besar. Mereka memukul, menendang, dan mengejar Ben tanpa henti. Ben yang dijuluki Si Kecil, menganggap Toni dan Ren sebagai ancaman di sekolah. Ia pun enggan untuk pergi ke sekolah.

Pada dasarnya, baik Toni maupun Ren, bukanlah anak yang jahat. Mereka seperti sebuah kanvas putih yang siap dilukis dengan berbagai warna. Di satu sisi mereka menerima apapun yang ada dalam lingkungannya. Di lain sisi, mereka belajar melalui apa yang diterima di lingkungannya. Pemahaman yang mereka dapat saat menonton film tidak disertai nilai-nilai moral yang seharusnya diberikan orang yang lebih dewasa. Orang-orang yang lebih dewasa mampu mengajarkan bahwa kekerasan tidak perlu dilakukan dalam siatuasi apapun. Selain itu, film yang mengandung kekerasan kurang baik jika ditonton oleh anak yang berusia sekitar 4 tahun, karena kemampuan mereka dalam bernalar belum berkembang sampai maksimal. Mereka boleh saja menonton, tetapi perlu ada orang lain yang lebih dewasa untuk meluruskan pemahaman mereka mengenai film tersebut.

Tidak setiap orangtua dapat menyadari perubahan dalam perilaku anaknya. Di rumah, Toni dan Ren tidak bersama dengan Ben, sehingga mereka tampak sebagai anak yang baik dan tidak mengganggu siapapun. Orangtua mereka tentu tidak selalu berada di sekolah bersama anak-anaknya, tetapi mereka selalu ada di rumah dan menyaksikan anak-anaknya adalah anak yang baik. Tentu mereka menyangkal jika anaknya dikatakan nakal. Sekarang kita dapat melihat bahwa sesuatu yang dipelajari anak akan mempengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Jika nilai-nilai yang baik ditanamkan, tentu mereka menjadi anak yang baik. Sebaliknya, mereka akan menjadi anak "nakal" jika nilai-nilai yang baik tidak ditanamkan.


Bersambung . . .


Monday, 22 June 2015

Sapuan Pertama

Bayangkan Anda sedang menatap sebuah kanvas. Sapuan kuas pertama adalah warna yang cerah, misalnya jingga. Apa yang Anda bayangkan dalam warna jingga? Apa yang Anda rasakan? Warna ini melukiskan perasaan senang dalam sebuah situasi. Ya, masa kecil memang masa yang paling menyenangkan. Seorang anak yang belajar beradaptasi dengan dunianya belajar untuk "merasakan" dunia dengan panca inderanya. Sejak ia dilahirkan, ia mulai belajar mengenali dunia ini, apakah menyenangkan atau tidak? Ia pun belajar berjalan, berbicara, bermain, dan lain-lain sampai ia mampu melakukan semuanya sampai ia mulai masuk ke sekolah.

Seorang anak bernama Ben (mohon maaf untuk Anda yang bernama Ben, ini hanya untuk menyamarkan identitas) adalah anak yang akan diceritakan dalam kisah Kanvas Putih. Awal kisah hidupnya tidak diwarnai dengan warna yang cerah, tetapi kelam. Kisah ini diawali pada saat ia berusia 4 tahun. Ia adalah seorang anak tunggal dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang wiraswasta dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Jika ayahnya pergi bekerja, Ben bersama dengan ibunya. Ibu Ben hanya menitipkannya pada pembantu jika ingin memasak, demi keamanan Ben. Meskipun demikian, Ben tetap dapat melihat ibunya, karena pembantu di rumahnya tidak membawanya jauh dari ibunya. 

Kehidupan Ben sebelum sekolah sangat menyenangkan. Ia sering diajak pergi jalan-jalan, membeli mainan, dan bermain dengan anjing di rumahnya. Meskipun ia adalah anak tunggal, Ben tidak dimanja seperti anak tunggal pada umumnya. Kedua orangtuanya berkeinginan ia tidak menjadi anak yang manja. Ibu Ben konsisten dalam mendidik anaknya. Sesuatu yang memang tidak diperbolehkan memang tidak diijinkan, aturan-aturan tidak diubah. Akan tetapi, ayah Ben mudah sekali memberi toleransi. Misalnya, pada saat Ben batuk, ia diperbolehkan memakan sedikit makanan yang digoreng. Jika ia tidak mendapatkan yang diinginkan dari ibunya, ia meminta kepada ayahnya, karena seringkali ia dapatkan.

Di dalam keluarganya, Ben selalu diajarkan bagaimana cara membaca, menulis, berhitung, dan lain-lain. Ada dua hal yang sama sekali tidak diajarkan kepadanya saat masih kecil, yaitu seni dan agama. Keluarga Ben memang tidak pernah mengunjungi tempat-tempat ibadah sama sekali. Kedua orangtuanya hanya mengatakan kepada Ben bahwa ia beragama Buddha Kong Hu Cu. Baik Buddha, maupun Kong Hu Cu, sebenarnya berbeda, tetapi ayah Ben mengatakan keduanya sama. Di dalam keluarganya, Ben hanya mengetahui ayahnya melakukan sembahyang untuk menghormati leluhur, selebihnya tidak. Kedua orangtuanya memang tidak mengunjungi Vihara dan melakukan ibadah secara rutin. Akibatnya, Ben yang masih kecil tidak mengenal agama sama sekali.

Pertama kalinya Ben datang ke sekolah X, ia menyukai permainan-permainan yang ada di sekolah itu. Di sana ada seluncur, ayunan, dan lain-lain. Melihat ekspresi Ben yang begitu senang, kedua orangtuanya mendaftarkannya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak (TKK) di sekolah itu. Kebetulan, sekolah itu adalah sekolah Kristen. Pada hari pertama sekolah, Ben pun diantar ibunya ke sekolah. Maklum, anak yang pertama kali sekolah menangis keras, sama seperti Ben. Akan tetapi, tangisannya sangat keras, sehingga ibunya memberi tahu kepada kepala sekolah yang menggendongnya bahwa ia menyukai Power Rangers. Setelah kepala sekolah bercerita mengenai Power Rangers, Ben menjadi lebih tenang dan tidak lagi menangis. Untung saja tangisannya berhenti, jika tidak, kaca jendela di sekolah pecah karena suaranya, ha3x ^^

Suasana di sekolah sangat berbeda dengan suasana yang selama ini dialami Ben. Ada dua orang teman sekelasnya yang selalu melakukan bullying terhadapnya. Secara fisik, tubuh Ben memang kecil dan ia adalah anak yang terkecil di kelasnya. Kedua temannya selalu memanggilnya "Si Kecil." Mereka kerap kali mengejarnya dan memukulinya, karena mereka mengidolakan tokoh dalam film dan ingin berperan seperti itu. Mereka beranggapan bahwa jika mereka bisa mengalahkan orang lain dengan kekerasan, berarti hebat, seperti pada film yang mereka tonton.

Perlakuan teman-teman membuat Ben enggan untuk masuk sekolah. Namun, ibunya selalu menyuruhnya untuk pergi sekolah. Suka tidak suka, ia tetap mengikuti sekolah dengan terpaksa. Ia hampir tidak pernah merasa senang selama di sekolah. Dalam pikirannya selalu terlintas ia akan di-bully pada jam pulang sekolah jika belum menemukan orangtuanya. Di sekolah, Ben pernah bermain dengan seorang teman yang lebih besar daripadanya. Teman tersebut memegang kedua pergelangan tangannya, ia memutar-mutar Ben sampai Ben tidak dapat menginjakkan kakinya ke tanah. Selanjutnya, kedua tangannya dilepas. Bagian perut Ben pun terbentur batu dan ia menangis keras.

Umumnya, masa-masa TKK adalah masa yang menggembirakan bagi seorang anak. Tidak ada pelajaran yang berat. Mereka masih dapat menikmati waktu luangnya dengan bermain. Pekerjaan-pekerjaan rumah yang diberikan pun tidak sulit untuk dikerjakan. Sayangnya, masa TKK Ben diwarnai dengan masa-masa kelam. Ia hampir tidak pernah merasakan kegembiraan di sekolah. Ia pun enggan bercerita mengenai masalah di sekolah kepada orangtuanya, karena ayahnya selalu memarahinya jika ia mengatakan bullies (teman-teman yang melakukan bullying) sebagai "musuh." Ibunya enggan untuk mendengarkannya, karena Ben sangat sering menceritakannya. Guru-guru di sekolah pun justru melabel Ben dengans ebutan "anak nakal." Ia adalah anak yang selalu disalahkan jika terjadi bullying, karena para guru beranggapan teman-temannya tidak mungkin menyerangnya jika ia tidak melakukan sesuatu. Kenyataannya, setiap hari ia di-bully. Ben pun tidak tahu harus bercerita kepada siapa, tidak ada orang yang melindunginya. Ia hanya dapat memendam perasaan marahnya dalam diri.


Bersambung . . .

Sunday, 21 June 2015

Kanvas Putih

www.writerscafe.org

Kehidupan adalah bagai sebuah kanvas yang putih bersih. Setiap warna yang disapukan di atasnya akan menjadi corak yang baru. Corak-corak yang ada pada kanvas akan menghasilkan sebuah lukisan. Awalnya, kita hidup tanpa memiliki apapun. Seiring bertambahnya pengalaman dan usia, kisah hidup kita akan semakin banyak. Semuanya akan menjadi sebuah kisah yang unik bagi setiap orang. Cerita satu orang berbeda dengan cerita orang lain meskipun mereka hidup di era yang sama.

Pada era tertentu, seseorang mengalami suatu hal, tetapi orang lain belum tentu. Bahkan pengalaman yang sama pun memiliki cerita yang berbeda. Misalnya, dua orang anak mendapat ranking 1 di kelasnya. Anak pertama meraihnya dengan susah payah, ia belajar mati-matian. Anak kedua hanya belajar dua hari setiap kali ujian, karena ia memiliki potensi akademik yang lebih kuat. Dua cerita yang berbeda bukan?

Ada orang yang memiliki kisah hidup menyedihkan, ada pula yang menyenangkan. Kisah menyedihkan pun tidak selalu berakhir dengan kesedihan, tetapi dapat berakhir dengan kebahagiaan. Kisah hidup bahagia belum tentu selamanya bahagia. Pada saat tertentu seseorang akan jenuh jika ia hanya mengalami kebahagiaan. Ia merasakan kebahagiaan kembali jika tidak mengalami hal yang sama setiap harinya. Ada orang yang dapat menikmati kehidupannya, ada pula yang tidak.

Segala sisi dalam kehidupan adalah sebuah paradoks, ada sisi baik, ada sisi buruk. Itulah kehidupan. Seperti warna-warna yang disapukan di atas kanvas, ada warna yang cerah, ada yang gelap. Setiap warna merupakan ekspresi dari pikiran dan perasaan seseorang yang menjadi bagian dari kisah hidupnya. Meskipun kehidupan ini berupa sebuah paradoks, tetapi kita sebagai manusia merasakan kebahagiaan di dalamnya. 

Hal yang menyenangkan tidak selalu menghasilkan perasaan senang. Sesuatu yang menyedihkan tidak selalu membawa kesedihan. Paradoks adalah sebuah misteri yang tidak kita ketahui. Kita hanya mengetahui masa lalu dan masa kini dalam kehidupan kita, tetapi kita tidak pernah mengetahui seperti apa masa depan kita. Yang perlu dilakukan adalah menikmati segala hal yang sudah dan sedang terjadi dan bersyukur.

www.saatchiart.com

Dalam blog ini, akan dipaparkan kisah kehidupan seseorang yang awalnya memandang dunia itu tidak menyenangkan. Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata seorang anak yang masa-masa hidupnya diwarnai dengan kekelaman. Seiring berjalannya waktu, ia mulai melihat kehidupan itu adalah sesuatu yang indah.  Ia akan bertemu dengan sebuah peristiwa yang benar-benar menyakitkan baginya. Namun, peristiwa itu justru membawa kebahagiaan karena ia menemukan sesuatu yang paling berharga dalam masa-masa sulitnya.