Kecenderungan Ben dalam pergaulan pun tidak jauh berbeda dengan pada saat ia menduduki kursi SD. Dalam pergaulan, ia masih saja menjadi pribadi yang lebih banyak menarik diri. Selama berinteraksi dengan teman-temannya, Ben tidak terlalu ekspresif, ia juga tidak banyak berbicara. Saat jam istirahat pun ia tidak banyak bermain dengan teman-teman barunya. Selain merasa enggan karena beranggapan teman-temannya akan menolaknya seperti pada paragraf sebelumnya, Ben memiliki perasaan takut jika teman-temannya melakukan bullying. Hal-hal ini membuatnya lebih memilih untuk menyendiri dan menggambar saja selama istirahat.
Walaupun Ben hanya menyendiri, ia dekat dengan beberapa teman sebangkunya. Mereka adalah Anggi, Vina, dan Rose, ketiganya adalah anak-anak perempuan. Anggi dan Vina adalah anak yang cerdas, selalu mendapat nilai yang baik dalam tugas dan ulangan. Rose adalah anak perempuan dengan tubuh yang lebih besar dari Ben dan lebih tegas. Selama bergaul dengan Ben, ia lebih mirip dengan sosok kakak bagi Ben. Selain mereka, Ben juga dekat dengan Chris, seorang anak laki-laki yang cerdas dan sedikit usil.
Ternyata dugaan Ben bahwa ada anak-anak tertentu yang dapat melakukan bullying menjadi nyata saat pertengahan semester kelas VII. Awalnya, seorang anak laki-laki yang bernama Bondan hanya usil kepada Ben. Semakin lama, kejahilannya semakin menjadi-jadi sampai Ben tidak dapat menoleransinya, karena ia selalu mengambil barang-barang Ben dan menyembunyikannya. Setelah Bondan melakukannya selama beberapa hari, terdapat 2 orang teman SD Ben yang menganggunya dengan cara yang sama. Kedua anak itu adalah Samy dan Ivan. Mereka tidak pernah Ben hanya menyendiri selama istirahat. Mereka selalu saja mengambil kotak makan Ben saat ia sedang makan. Apabila Ben sedang mengerjakan sesuatu, perlengkapannya selalu diambil dan disembunyikan.
Salah satu peristiwa saat Samy dan Ivan mengganggu Ben adalah saat Ben mengerjakan tugas Seni di kelas. Saat itu, Ben benar-benar marah karena ia ingin menikmati suasana saat melukis. Ia yang benar-benar marah memukul Ivan dengan penggaris panjangnya hingga patah. Anehnya, Ivan tidak menangis, justru kejahilannya semakin intensif. Ben pun menendang kakinya dan Ivan sama sekali tidak kesakitan. Ben yang merasa frustrasi terdiam dan menatap sinis selama diganggu. Tidak lama kemudian, seorang teman dari kelas C datang, ia bernama Jose.
![]() |
Jose adalah anak seusia dengan Ben, namun ia memiliki tubuh yang jauh lebih besar. Saat itu, Ben dan Jose sama sekali belum mengenal satu sama lain. Tiba-tiba, Jose menghampiri Ben yang sedang terdiam dikelilingi Samy dan Ivan. Jose pun memukul kepala Ben dengan keras tanpa sebab yang jelas. Ben membalas pukulannya, tetapi sama sekali tidak berhasil, karena Jose tidak merasa sakit sama sekali. Ben yang saat itu masih membenci ayahnya karena seringkali berkata kasar dan memukul kepalanya saat belajar merasa kemarahan yang amat besar saat kepalanya dipukul oleh Jose. Sayangnya, Ben tidak mampu memertahankan dan membela dirinya, kemampuannya secara fisik jauh lebih lemah daripada Jose dan Ivan yang tidak merasa sakit saat dibalas. Jose pun hanya diam dan dipukul kepalanya berkali-kali oleh Jose hingga ia menangis.
Kebetulan, Rose memasuki kelas saat Ben mulai menangis. Ia pun mengusir teman-teman yang menjahili Ben, termasuk Jose. Jose dan Rose pun bertengkar mulut di hadapan Ben. Ia yang menyaksikan pertengkaran temannya dengan Jose menyalahkan dirinya. Ben berkata dalam hatinya, "Kalo gue ga selemah ini, Rose ga perlu lindungin gue kayak gini." Ia pun mengambil gunting dari tas perlengkapan seninya dan memotong kuku-kukunya menjadi runcing. Ben melakukannya untuk mencakar Jose hingga berdarah jika ia sampai menjahilinya lagi. Jose pun pergi meninggalkan kelas A setelah dimarahi Rose.
Ben yang sedang diselimuti amarah sangat sulit untuk dibujuk oleh Rose. Ia memang kesal kepada para bullies, tetapi ia belum dapat mengendalikan kemarahannya. Dengan demikian, ucapannya yang selama ini tidak kasar menjadi lebih ketus daripada biasanya, bahkan terhadap Rose. Rose yang lebih dewasa daripada Ben saat itu memahami penyebab perilaku Ben dan membiarkannya tenang sampai esok hari. Rose yakin Ben akan lebih tenang, karena sudah tidak ada jam istirahat dan teman-teman lain tidak ada yang berani mendekati Ben yang sedang marah, terutama saat melihat kuku-kukunya yang runcing.

No comments:
Post a Comment