Tumblr Mouse Cursors

Tuesday, 5 January 2016

Warna-Warni Selama SMP (Bagian II)

Di antara semua teman-teman Ben, hanya dua orang yang selalu mengganggunya, yaitu Samy dan Ivan. Bondan hanya mengganggunya di awal-awal periode kelas VII, seperti Jose. Saat naik ke kelas VIII, Ben sekelas dengan Jose, tetapi ia beruntung karena Jose tidak mengganggunya lagi. Di kelas VIII, Ben masih diganggu oleh Samy dan Ivan, sehingga ia semakin membenci mereka. Namun, frekuensi kejahilan Samy dan Ivan mulai berkurang sampai berhenti saat pertengahan tahun ajaran. Walaupun beberapa teman sudah tidak mengusik Ben, muncul teman-teman baru lainnya yang membuat Ben merasa terganggu, salah satunya adalah Endy.

Endy dapat dikatakan sebagai anak yang cerdas di kelasnya, terutama dalam pelajaran matematika dan fisika. Ia pun juga berbakat dalam hal olah raga. Endy dan Ben sangat bertolak belakang. Ben kurang berbakat dalam pelajaran-pelajaran yang diungguli oleh Endy. Selain itu, Endy memiliki lebih banyak teman daripada Ben. Ben yang sering menarik diri dari teman-temannya pun tidak memiliki kelompok pergaulan secara khusus. Kini, ia lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya membaca buku di perpustakaan (perpus) untuk menghindari bullies, sedangkan Endy lebih suka bergaul dengan teman-temannya saat waktu istirahat. Saat bergaul, Endy lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki, sedangkan Ben lebih banyak bergaul dengan anak perempuan. Bagi Ben, anak laki-laki sulit dipercaya, karena selama ini ia selalu di-bully oleh anak laki-laki. Mereka berbeda sekali, bukan?

Sejak awal, Endy dan Ben memang tidak banyak berhubungan. Akan tetapi, di pertengahan tahun ajaran terungkap bahwa sebenarnya Endy sama saja dengan anak-anak yang pernah mem-bully Ben. Di pertengahan tahun ajaran, sekolah menetapkan kebijakan untuk selalu mengawali hari Jumat pagi dengan senam bersama. Dengan demikian, semua murid wajib memakai kaus putih dan celana olah raga. Seperti yang kita ketahui, celana olah raga tidak memiliki lubang untuk ikat pinggang. Umumnya, celana jenis ini hanya menggunakan karet elastis pada bagian pinggang. Mungkin, Anda bertanya-tanya mengapa bahan celana olah raga itu perlu dibahas sekarang, nanti semuanya akan terungkap dari cerita Ben.

www.cnnindonesia.com

Senam selalu melibatkan pergerakan tubuh, sehingga tangan tidak selalu berada di dekat pinggang. Nah, momen itu adalah momen yang selalu dinanti-nantikan oleh Endy. Tiba-tiba, ia menurunkan celana Ben DI HADAPAN PUBLIK, sampai celana dalam Ben terlihat oleh semua orang di sekitarnya, termasuk oleh teman-teman perempuan. Ia sengaja menargetkan celana karena mudah untuk diturunkan (ingat, celana olahraga memiliki karet yang elastis) Ben yang merasa malu segera menaikkan celananya. Endy pun tertawa terbahak-bahak saat berhasil melakukannya. Entah, apa yang ada di pikirannya, hal itu tetap tidaklah senonoh. Akan tetapi, Endy terus saja mengulanginya, Teman-temannya pun ikut melakukan hal itu, sehingga Ben memukul wajahnya dengan keras karena marah dan merasa dipermalukan. Anehnya, Endy justru lebih marah karena ia dipukul dan mencengkram kerah baju Ben. Teman-teman Endy pun melerai mereka. Sebenarnya, siapa yang berbuat salah terlebih dahulu? Siapa yang berhak marah?  Perlakuan-perlakuan yang diterimanya membuat Ben tidak tahu harus "meletakkan wajahnya" di mana saat berhadapan dengan orang lain. Ia benar-benar malu.

Di satu sisi, teman-teman Ben senang mengolok-oloknya, namun mereka selalu mengucilkan Ben saat pelajaran olah raga. Ben yang tidak mahir dalam bermain bola selalu menjadi orang terakhir yang dimasukkan ke dalam kelompok. Teman-teman lainnya tidak sinis kepadanya, walaupun mereka hanya memilih orang-orang yang mahir. Akan tetapi, Endy sangat sinis kepada Ben. Ia tidak segan mengucapkan, "HAH! Kenapa sih lu mesti masuk ke tim gue? Pasti kalah." Terkadang pun, ia mendorong Ben untuk mengucilkannya saat pembagian kelompok.

suite.io

Tindakan tidak senonoh yang dilakukan Endy tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dilakukan pada setiap kali kesempatan yang muncul selama senam. Ben pun tidak dapat melarikan diri dari situasi itu, karena guru-guru tidak akan mengizinkan siapapun meninggalkan lapangan sebelum selesai. Akhirnya, Ben memutuskan untuk waspada. Ketika Endy menurunkan celananya, Ben segera menahannya dan kembali membalas dengan menurunkan celana Endy sampai celana dalamnya terlihat DI HADAPAN PUBLIK. Apa yang ia lakukan SAMA PERSIS seperti yang dilakukan Endy, karena ia berkeinginan untuk membuat Endy juga merasa dipermalukan. Anehnya, Endy justru tersenyum dan seakan-akan "menikmati" momen tersebut. Ben merasa semakin tidak nyaman dengan masa-masa SMP-nya dan semakin menarik diri.

Perlakuan yang diterima Ben bukan lagi sekadar bullying secara fisik, tetapi sudah mengarah pada bullying secara emosional dan seksual. Tidak berhenti sampai di sana, Ben juga menerima perlakuan lain yang serupa hanya karena alasan yang tidak rasional. Kecenderungan Ben untuk lebih banyak bergaul dengan anak-anak perempuan menjadi bahan olokan bagi para murid laki-laki seangkatannya. Murid-murid itu memerlakukan Ben seperti "bukan laki-laki."

Ben dianggap bukan laki-laki, sehingga mereka membuat semacam "skenario" untuk memainkan alat vital Ben seakan-akan "menguji apakah betul Ben itu laki-laki?". Mereka selalu melakukannya saat waktu mengganti pakaian setelah olah raga. Mereka mengincar bagian vital itu dan memainkannya. Teman-teman yang melakukannya cukup banyak, sekitar 4-5 orang. Beberapa orang menahan pergerakan Ben, sehingga ada 1-3 orang yang dapat memainkannya. Tidak hanya itu, mereka pun memiliki kebiasaan menyentuh bagian tertentu pada dada Ben sambil mengatakan "Hai cewek...."

www.dpix.xyz
Teman-teman Ben paling senang jika melihat Ben berada di toilet saat buang air kecil. Mereka TIDAK AKAN buang air kecil sebelum menyentuh alat kelamin Ben dan memainkannya. Jika Ben marah, mereka akan semakin senang. Jika Ben tidak melawan, mereka terus melakukannya sampai Ben mengeluarkan reaksi. Dengan demikian, bullying yang dilakukan kepada Ben pun tidak sekadar mengarah pada sexual bullying, tetapi memang sudah terjadi.

Untungnya, perlakuan tidak pantas yang diterima Ben tidak berlanjut sampai kelas IX. Ben pun tidak lagi sekelas dengan mereka. Akan tetapi, perasaan cemas akan dimainkan alat vitalnya maupun disentuh pada bagian tertentu yang membuatnya tidak merasa nyaman. Ia pun merasa takut untuk masuk ke toilet pria, karena tidak ada kamar kecilnya, hanya tersedia uriner. Meskipun tidak ada siapa-siapa, perasaan cemas dan takut itu selalu menghantui Ben. Ia kuatir jika saat ia berganti pakaian maupun buang air kecil ada yang melihatnya akan mengganggunya.

Perasaan takut dan cemas dalam diri Ben membuatnya selalu mencuri-curi kesempatan untuk masuk ke kamar kecil yang sebenarnya diperuntukkan bagi para murid perempuan. Ben sama sekali tidak mengganggu para murid perempuan, ia hanya masuk ke sana jika tidak ada orang lain dan kamar kecil itu kosong, hanya untuk buang air kecil. Jika benar-benar terpaksa, ia masuk ke dalam toilet laki-laki dengan menahan perasaan takutnya sambil mengawasi keadaan. Ia tidak peduli lagi pada apa yang dikatakan oleh aturan, ia hanya tidak ingin diganggu.

Setelah terlepas dari bullies saat SD, Ben tidak benar-benar merasa tenang karena bullies semakin banyak. Perlakuan mereka pun sama parahnya dengan bullies saat SMP. Secara keseluruhan, di SMP ia menerima kekerasan secara verbal dan peecehan seksual. Alasan mengapa ia berhak menerima semua itu pun sama sekali tidak jelas. Pengalaman-pengalaman buruk yang dialami Ben selama SMP menimbulkan perasaan tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ia pun tidak menyukai dirinya lagi. Ben mulai memersepsikan dirinya tidak berguna, karena teman-teman selalu mengucilkannya saat pelajaran olah raga.Akibatnya, ia juga merasa tidak percaya diri. Ben pun "bertarung" dalam pikirannya, karena perkataan "Hai cewek..." dan perlakuan-perlakuan tidak pantas selalu terbayang dalam imajinasinya. Entah mengapa, Ben selalu merasakan kemarahan jika menyaksikan teman lainnya diperlakukan seperti dirinya (tidak senonoh). Perasaan itu muncul sejak Ben diperlakukan secara tidak pantas. Seakan-akan Ben ingin menghapuskan semua kenangannya dan memulai hidup yang baru. Sayangnya, ia tidak dapat melakukan hal itu.


kaieckhardt.bandcamp.com





Bersambung . . .

No comments:

Post a Comment