Tumblr Mouse Cursors

Friday, 31 March 2017

Awal dari Menghilangnya Sukacita

Adanya masalah pencurian membuat pihak sekolah semakin gelisah. Mereka memanfaatkan waktu untuk melakukan "interogasi" kepada para murid di kelas Ben. Setiap anak dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk diinterogasi. Setiap murid yang kembali dari sana tampak murung, ada pula yang tersenyum sambil menghela napas panjang. Tentunya hal ini membuat Ben bertanya-tanya "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tidak ada pelajaran, tidak ada guru yang masuk, hanya ada interogasi sejak jam masuk sekolah sampai pulang.

Tiba giliran Ben dipanggil ke ruang kepala sekolah. Secara kebetulan, Ben dan Susi dipanggil secara bersamaan ke sana untuk diinterogasi secara bersamaan. Pihak sekolah banyak sekali menanyakan kasus pencurian, padahal Ben tidak mengetahui apapun. Setiap kali ditanya, ia menatap Susi karena ia terkesan lebih banyak mengetahui hal ini. Walaupun Susi dicurigai pihak sekolah sebagai pencuri HP, cara berperilaku Ben membuat kepala sekolah mencurigainya sebagai rekan Susi dalam pencurian. 

Keesokan harinya, Ben dan Susi dipanggil secara terpisah ke ruang kepala sekolah. Tiba gilirannya, kali ini Ben berhadapan sendiri dengan kepala sekolah dan para wakilnya. Lagi-lagi ia ditanya mengenai kasus pencurian HP. Dalam jam istirahat sekolah, Bu Christy (guru BK) menghampiri Ben. Ia menawarkan Ben untuk mengikuti tes SQ di daerah Kelapa Gading. Ben tidak memberi jawaban pasti untuk mengikutinya ataukah tidak. Ternyata, Bu Christy membawa Ben, Susi, Jono, dan Jerry sepulang sekolah ke Kelapa Gading untuk dites. Pihak Sekolah sama sekali tidak memberi tahu orangtua mereka mengenai hal ini. Parahnya lagi, Ben tidak membawa HP untuk menghindari pencurian di jam olahraga sekolah.

Sesampainya di daerah Kelapa Gading, seorang ahli kesehatan mental yang bernama Pak Budi menghampiri Bu Christy dan murid-muridnya. Tanpa basa-basi, mereka pun segera diberi tes SQ seperti yang disampaikan Bu Christy kepada Ben. Jumlah soalnya sangat banyak dan membuat tangan terasa pegal. Anehnya, Jerry, Jono, dan Ben diminta mengerjakan lagi dari awal. Alasannya, hasil tesnya tidak dapat dikoreksi karena banyak jawaban yang salah. Setelah dikerjakan lagi, tetap saja Ben diminta mengerjakan lagi, lagi, dan lagi. Ben sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Setelah empat kali mengerjakan, akhirnya Ben tidak diminta lagi melakukannya. Bu Christy dan murid-muridnya pun diminta menunggu di ruang tamu. Satu per satu para murid dipanggil Pak Budi untuk masuk ke ruangannya. Waktu yang ia habiskan bersama seorang murid kurnag lebih sekitar 15 menit. Setiap murid yang keluar menampilkan wajah yang tampak lesu, tidak bersemangat, tidak tersenyum, dan menatap ke bawah. Ada apa sebenarnya? 
Image result for cornered person
http://ivyleagueinsecurities.com/2010/05/mean-people/

Ketika Ben dipanggil ke dalam ruangan, rupanya Pak Budi mengatakan, "Cuma kamu lho yang hasil tesnya ga keluar-keluar. Ada yang kamu rahasiakan?" Ben sudah mengatakan tidak menyimpan rahasia, masih saja Pak Budi mendesaknya untuk menceritakan sebuah rahasia yang tidak ada. Ben hanya mengatakan ia tidak membiarkan ayahnya tahu bahwa selama ini ia pulang ke rumah dengan naik angkot. Tetap saja ditanya oleh Pak Budi, "Ada rahasia apalagi yang kamu sembunyikan?" Ben terdiam, karena tidak tahu harus mengatakan apalagi, ia semakin merasa tersudut. Tiba-tiiba raut wajah Pak Budi berubah. Dahinya berkerut, tatapannya terfokus pada mata Ben, tubuhnya condong ke depan. Ia bertanya, "Kamu tahu kan soal pencurian HP itu?"


Ben yang terkejut mendengar pertanyaan Pak Budi langsung bertanya, "Gimana Bapak tahu?" Pak Budi mengalihkan pandangannya dan mengatakan hanya pernah mendengar dari Bu Christy. Sekali lagi ia bertanya, "Kamu tahu kan?" Saat itu, hal yang pertama terlintas dalam pemikiran Ben adalah pihak sekolah bekerja sama dengan Pak Budi untuk mencari kebenaran kasusnya, sekaligus menuduh Ben sebagai pelaku. Kepercayaan yang ia miliki kepada pihak sekolah selama ini hancur. Ia terdiam dan mengatakan "Saya ga tau" dengan suara yang gemetar. Saat itu juga, Ben diminta keluar dari ruangan oleh Pak Budi.

Di hadapan Bu Christy dan teman-temannya, Ben hanya menampilkan wajah datar. Saat ditanya, "Gimana?" oleh Bu Christy, ia hanya tersenyum kecil. Tidak lama kemudian Pak Budi menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Bu Christy. Setelah itu, Bu Christy dan murid-muridnya kembali ke sekolah. Selama berada di dalam mobil, hanya Bu Christy saja yang masih bisa tersenyum dan bercanda. Sementara itu semua murid yang bersamanya muram, sama sekali tidak tersenyum, apalagi tertawa. Ben hanya berkata dalam hatinya, "Ternyata dia yang selama ini kesannya baik padahal nuduh gue sembarangan. Tau kasusnya aja juga nggak, nuduh. Guru macem apa lo?"



Bersambung....

Wednesday, 16 November 2016

Semua Warna Mulai Pudar

Setelah sama-sama naik ke kelas XI, hubungan Ben dan Susi mulai merenggang. Mereka tidak berselisih, tetapi Susi terkesan memberi jarak dalam hubungan tersebut secara tiba-tiba tanpa alasan yang pasti. Terkadang ia baik, terkadang ia sinis. Terdapat dua hal yang diketahui sejak awal kelas XI dari Susi, ia tidak menyukai Rose (yang saat itu sekelas kembali dengan Ben) dan Jono (siswa laki-laki yang tidak naik kelas tahun lalu). Sementara itu, Ben tidak bermasalah dengan mereka berdua dan ia dapat berteman dengan siapa saja di kelasnya. Terkadang pun Ben dapat bertukar HP dengan Rose dan Jono di kelas, mereka saling memainkan game atau mendengarkan musik yang ada di HP yang mereka pegang.

Suatu hari, tepatnya hari Kamis, Jono tidak dapat menemukan HP yang disimpannya di loker kelas. Hari Kamis adalah hari dengan jam pelajaran olahraga. Oleh karena itu, setiap siswa dihimbau menyimpan barang-barang berharganya di sana. Setiap hari Kamis pula Ben sengaja tidak membawa HP-nya, untuk mengantisipasi kehilangan barang berharga. Baiklah, kembali ke Jono. HP Jono memang hilang pada ia selesai berolahraga. Anehnya, hanya HP-nya saja yang hilang. Akan tetapi, barang-barang berharga lain kepunyaannya dan teman-teman lain masih ada. Ia tampak resah dan segera melaporkannya kepada guru.

Guru yang mendengar kasus Jono benar-benar terkejut dan langsung memasuki kelas. Beliau meminta setiap murid memeriksa tas masing-masing untuk memastikan tidak ada lagi yang kehilangan. Hal itu juga dilakukan untuk mencari apakah ada HP Jono di dalam tas semua murid. Sayangnya, tidak satu pun murid yang berhasil menemukan HP Jono. Guru itu terlihat bingung dan segera keluar.

Tidak lama kemudian, guru BK, Bu Tika dan Bu Shifa (Guru Wali) datang ke kelas. Mereka meminta setiap murid membawa tasnya ke hadapan mereka. Selanjutnya, mereka memeriksa tas itu sendiri apakah terdapat HP Jono atau tidak. Hasilnya tetap sama, NOL BESAR... tidak ada HP yang ditemukan dalam tiap tas yang mereka periksa. Sekali lagi, mereka keluar dari kelas. Beberapa saat kemudian, seorang guru masuk ke kelas dan mengumumkan tidak akan ada pelajaran yang diberikan selama belum ada murid yang mengakui kesalahannya. Tentu saja hak setiap murid untuk diberi pelajaran hilang pada saat itu. Keesokan harinya suasana kelas masih sama seperti sebelumnya. Hanya ada beberap guru saja yang masuk memberikan materi pelajaran. Sementara itu, guru-guru lain sama sekali tidak masuk ke kelas untuk mengajar.

Image result for blame
https://breezometer.com/beyond-blame/
Suatu saat, seorang guru memasuki kelas, Beliau adalah Ibu Pina. Tanpa basa-basi, Beliau langsung mengatakan dengan suara lantang di dalam kelas, "Kalian tuh bener-bener keterlaluan! Kalian ga tau guru wali kalian sakit gara-gara stres mikirin kalian!" Siapapun yang mendengar hal ini tentunya merasa terpukul. Murid yang tidak mencuri pun merasakan kemarahan yang dilampiaskan. Mereka juga merasa disalahkan atas kejadian ini, padahal tidak sepantasnya mereka diperlakukan demikian. Belum lagi guru lain yang tiba-tiba memberikan tugas tanpa memberi tahu cara pengerjaan tugasnya. Apabila terdengar suara berisik dari kelas, seorang guru akan datang dan marah. Murid-murid pun merasa bosan dan tertekan.


Tidak ada guru yang masuk ke kelas membuat suasana kelas menjadi tegang dan sangat sunyi. Suasana di kelas membuat Ben merasa tidak ada maknanya untuk datang ke sekolah. Selama beberapa hari ia hanya datang membawa buku pelajaran sambil termenung. Kondisi ini berlangsung hingga 1 minggu lamanya. Murid-murid selain Ben mulai dapat menerima masalah yang terjadi, mereka pergi ke kantin, bermain, dan mengobrol sepanjang jam sekolah. Kesannya memang tidak ada aktivitas yang dilakukan oleh para murid, tetapi situasinya sangat berbeda jika dilihat dari pandangan para guru. Mereka begitu sibuk memikirkan cara untuk mengatasi masalah pencurian HP hingga suasana hati mereka terpengaruh. Mereka pun mudah marah apabila murid dari kelas Ben melakukan tindakan yang tidak dikehendaki, misalnya mengobrol selama pelajaran atau tidak fokus saat belajar.

Bersambung . . .

Saturday, 23 January 2016

Kehidupan Bersekolah

Setelah lulus SMP, Ben menduduki kursi jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Agar Ben lebih banyak mengenal teman-teman barunya di SMA, ia ikut kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Berkat acara ini, Ben pun dapat mengenal beberapa teman-teman seangkatannya lebih awal. Di akhir hari MOS, Ben bertemu dengan seorang siswi yang belum pernah dikenalnya. Siswi tersebut mengenalkan dirinya dengan nama Susi. Santi mengatakan bahwa tahun lalu ia tidak naik kelas. Selama hari MOS, Susi tampak sebagai pribadi yang ceria dan ramah kepada semua orang, sehingga siswa-siswi baru lebih mudah dekat dengannya.

Setelah kegiatan MOS selesai, para siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing di hari berikutnya. Di kelas, Ben bertemu dengan banyak teman-teman baru. Namun, teman-teman yang selama ini melakukan bullying tidak ada di kelasnya, sehingga Ben merasa lebih tenang, sebuah nuansa baru dalam kehidupan bersekolah Ben. Di kelas X SMA, Ben tetap sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia terkesan sebagai anak yang pendiam dan tidak terlalu suka bergaul. 

Di kelas X, Ben mendapatkan kesempatan emas untuk menikmati waktu-waktunya untuk merasa sebagai "siswa sebenarnya." Selama ini ia tidak pernah peduli apabila orang lain mengatakan "sekolah itu masa-masa yang paling menyenangkan," karena ia selalu di-bully. Sekarang, ia merasakan seperti apa kehidupan seorang siswa jika tidak mengalami bullying. Tentu saja situasinya sangat berbeda dan menuntut penyesuaian pula. Ben yang biasanya di-bully menjadi tidak tahu apa yang dapat ia lakukan selama istirahat selain makan siang dan pergi ke toilet. Saat ingin bergaul, Ben melihat ke sekelilingnya, semua temannya membentuk kelompok-kelompok terpisah. Jika ada orang lain yang masuk ke kelompok itu, mereka tentu tidak dipdulikan, seperti yang dirasakan Ben saat mencoba mengobrol dalam satu kelompok. Saat itu, justru ada satu teman dalam kelompok itu yang bersikap sinis, seolah ingin Ben meninggalkan kelompoknya. Padahal, ia duduk di tempat Ben. Sejak peristiwa itu, ia langsung menghindar jika melihat kelompok tersebut sudah menempati tempat duduknya. Ben pun lagi-lagi menjadikan perpus sebagai tempat pelariannya.


www.closer.ac.uk

Selama kelas X, tidak ada konflik besar yang terjadi, justru ia mendapatkan seorang teman baik yang baru di kelasnya, yaitu Susi, Brian, Dodi, dan Gana. Sebelumnya, Ben sudah mengenal Gana sejak SMP, hanya saja mereka baru mulai dekat di kelas X. Namun, Ben baru mengenal dan dekat dengan Brian dan Dodi. Secara keseluruhan, mereka semua lebih pandai daripada Ben dalam pelajaran yang bersifat hitungan dan pelajaran olahraga. Di kelas X ini, Ben sangat beruntung, pelajaran Seni kembali dipecah menjadi 4 cabang seperti sebelumnya, hanya saja "Seni Lukis" diubah menjadi "Seni Rupa." Ben pun memilih untuk mendalami kemampuannya dalam Seni Rupa.




www.activengage.com
Walaupun Ben terlihat sebagai siswa yang biasa-biasa saja, ia jarang terkena "remedial di semester 1 kelas X. Prestasinya pun berhasil membawanya masuk ke peringkat 10 di kelas saat pengambilan rapor mid-semester. Padahal, rapor mid-semester adalah rapor yang paling ditakuti para siswa, karena semua nilainya terpampang jelas, tidak ada yang disembunyikan. Prestasi Ben saat itu pun tersebar ke telinga teman-teman SMP-nya yang se-SMA dengannya. Mereka pun terkejut bahwa Ben menduduki peringkat 10. Ben sendiri terkejut dengan kemampuannya, sebab selama ini ia tidak pernah meraih prestasi. 

Sayangnya, kesenangan Ben berakhir dalam periode yang singkat. Beberapa hari saat memasuki semester 2, ia terkena penyakit cacar air. Penyakit ini membuatnya harus istirahat di rumah selama kurang lebih dua minggu. Meskipun ia beristirahat 2 minggu, tanda-tanda cacar airnya yang sudah kering masih ada, sehingga terdapat beberapa teman yang merasa jijik. Sebenarnya Ben tidak ingin masuk sekolah karena ia takut menjadi bahan olokkan, tetapi ibunya tetap memintanya masuk, agar tidak tertinggal pelajaran. Dugaan Ben Benar. Baru satu hari ia masuk, tiba-tiba ada seorang siswa yang pernah tinggal kelas (Gio) "Eh (...... Bagian ini saya beri titik-titik, karena kata ini terlalu kasar jika diucapkan)! Kalo masih sakit, pulang aja lu! Nularin aja!" Ben yang tegah menahan perasaan malu pun meneriakkan kata itu kembali tanpa peduli ia senior maupun bukan. Teman-teman lainnya pun segera menjauhkan mereka agar tidak sampai berkelahi.


hpdung.wordpress.com

Dua minggu tidak masuk sekolah memang sangat terasa, Ben benar-benar mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran hitungan seperti matematika, fisika, dan kimia (MaFiA - Tahu singkatan ini kan?), serta akuntansi. Di semester 2 ini pun ia mulai banyak terkena remedial, karena nilai-nilai ulangannya berada di bawah standar. Semakin mendekati akhir tahun ajaran, nilai Mafia semakin rendah mendekati stabil, wkwkwwkk. Namun, nilai-nilai Ben dalam bidang IPS tetap seperti sebelumnya. Dengan demikian, Ben memenuhi syarat untuk memilih jurusan IPS di kelas XI. Sejak awal masuk SMA, Ben merasakan kehidupan sebenarnya sebagai seorang siswa "tanpa di-bully." Ia pun merasa tenang dan berharap dua tahun berikutnya suasana di sekolah akan tetap sama.


Bersambung . . .


Tuesday, 5 January 2016

Warna-Warni Selama SMP (Bagian II)

Di antara semua teman-teman Ben, hanya dua orang yang selalu mengganggunya, yaitu Samy dan Ivan. Bondan hanya mengganggunya di awal-awal periode kelas VII, seperti Jose. Saat naik ke kelas VIII, Ben sekelas dengan Jose, tetapi ia beruntung karena Jose tidak mengganggunya lagi. Di kelas VIII, Ben masih diganggu oleh Samy dan Ivan, sehingga ia semakin membenci mereka. Namun, frekuensi kejahilan Samy dan Ivan mulai berkurang sampai berhenti saat pertengahan tahun ajaran. Walaupun beberapa teman sudah tidak mengusik Ben, muncul teman-teman baru lainnya yang membuat Ben merasa terganggu, salah satunya adalah Endy.

Endy dapat dikatakan sebagai anak yang cerdas di kelasnya, terutama dalam pelajaran matematika dan fisika. Ia pun juga berbakat dalam hal olah raga. Endy dan Ben sangat bertolak belakang. Ben kurang berbakat dalam pelajaran-pelajaran yang diungguli oleh Endy. Selain itu, Endy memiliki lebih banyak teman daripada Ben. Ben yang sering menarik diri dari teman-temannya pun tidak memiliki kelompok pergaulan secara khusus. Kini, ia lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya membaca buku di perpustakaan (perpus) untuk menghindari bullies, sedangkan Endy lebih suka bergaul dengan teman-temannya saat waktu istirahat. Saat bergaul, Endy lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki, sedangkan Ben lebih banyak bergaul dengan anak perempuan. Bagi Ben, anak laki-laki sulit dipercaya, karena selama ini ia selalu di-bully oleh anak laki-laki. Mereka berbeda sekali, bukan?

Sejak awal, Endy dan Ben memang tidak banyak berhubungan. Akan tetapi, di pertengahan tahun ajaran terungkap bahwa sebenarnya Endy sama saja dengan anak-anak yang pernah mem-bully Ben. Di pertengahan tahun ajaran, sekolah menetapkan kebijakan untuk selalu mengawali hari Jumat pagi dengan senam bersama. Dengan demikian, semua murid wajib memakai kaus putih dan celana olah raga. Seperti yang kita ketahui, celana olah raga tidak memiliki lubang untuk ikat pinggang. Umumnya, celana jenis ini hanya menggunakan karet elastis pada bagian pinggang. Mungkin, Anda bertanya-tanya mengapa bahan celana olah raga itu perlu dibahas sekarang, nanti semuanya akan terungkap dari cerita Ben.

www.cnnindonesia.com

Senam selalu melibatkan pergerakan tubuh, sehingga tangan tidak selalu berada di dekat pinggang. Nah, momen itu adalah momen yang selalu dinanti-nantikan oleh Endy. Tiba-tiba, ia menurunkan celana Ben DI HADAPAN PUBLIK, sampai celana dalam Ben terlihat oleh semua orang di sekitarnya, termasuk oleh teman-teman perempuan. Ia sengaja menargetkan celana karena mudah untuk diturunkan (ingat, celana olahraga memiliki karet yang elastis) Ben yang merasa malu segera menaikkan celananya. Endy pun tertawa terbahak-bahak saat berhasil melakukannya. Entah, apa yang ada di pikirannya, hal itu tetap tidaklah senonoh. Akan tetapi, Endy terus saja mengulanginya, Teman-temannya pun ikut melakukan hal itu, sehingga Ben memukul wajahnya dengan keras karena marah dan merasa dipermalukan. Anehnya, Endy justru lebih marah karena ia dipukul dan mencengkram kerah baju Ben. Teman-teman Endy pun melerai mereka. Sebenarnya, siapa yang berbuat salah terlebih dahulu? Siapa yang berhak marah?  Perlakuan-perlakuan yang diterimanya membuat Ben tidak tahu harus "meletakkan wajahnya" di mana saat berhadapan dengan orang lain. Ia benar-benar malu.

Di satu sisi, teman-teman Ben senang mengolok-oloknya, namun mereka selalu mengucilkan Ben saat pelajaran olah raga. Ben yang tidak mahir dalam bermain bola selalu menjadi orang terakhir yang dimasukkan ke dalam kelompok. Teman-teman lainnya tidak sinis kepadanya, walaupun mereka hanya memilih orang-orang yang mahir. Akan tetapi, Endy sangat sinis kepada Ben. Ia tidak segan mengucapkan, "HAH! Kenapa sih lu mesti masuk ke tim gue? Pasti kalah." Terkadang pun, ia mendorong Ben untuk mengucilkannya saat pembagian kelompok.

suite.io

Tindakan tidak senonoh yang dilakukan Endy tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dilakukan pada setiap kali kesempatan yang muncul selama senam. Ben pun tidak dapat melarikan diri dari situasi itu, karena guru-guru tidak akan mengizinkan siapapun meninggalkan lapangan sebelum selesai. Akhirnya, Ben memutuskan untuk waspada. Ketika Endy menurunkan celananya, Ben segera menahannya dan kembali membalas dengan menurunkan celana Endy sampai celana dalamnya terlihat DI HADAPAN PUBLIK. Apa yang ia lakukan SAMA PERSIS seperti yang dilakukan Endy, karena ia berkeinginan untuk membuat Endy juga merasa dipermalukan. Anehnya, Endy justru tersenyum dan seakan-akan "menikmati" momen tersebut. Ben merasa semakin tidak nyaman dengan masa-masa SMP-nya dan semakin menarik diri.

Perlakuan yang diterima Ben bukan lagi sekadar bullying secara fisik, tetapi sudah mengarah pada bullying secara emosional dan seksual. Tidak berhenti sampai di sana, Ben juga menerima perlakuan lain yang serupa hanya karena alasan yang tidak rasional. Kecenderungan Ben untuk lebih banyak bergaul dengan anak-anak perempuan menjadi bahan olokan bagi para murid laki-laki seangkatannya. Murid-murid itu memerlakukan Ben seperti "bukan laki-laki."

Ben dianggap bukan laki-laki, sehingga mereka membuat semacam "skenario" untuk memainkan alat vital Ben seakan-akan "menguji apakah betul Ben itu laki-laki?". Mereka selalu melakukannya saat waktu mengganti pakaian setelah olah raga. Mereka mengincar bagian vital itu dan memainkannya. Teman-teman yang melakukannya cukup banyak, sekitar 4-5 orang. Beberapa orang menahan pergerakan Ben, sehingga ada 1-3 orang yang dapat memainkannya. Tidak hanya itu, mereka pun memiliki kebiasaan menyentuh bagian tertentu pada dada Ben sambil mengatakan "Hai cewek...."

www.dpix.xyz
Teman-teman Ben paling senang jika melihat Ben berada di toilet saat buang air kecil. Mereka TIDAK AKAN buang air kecil sebelum menyentuh alat kelamin Ben dan memainkannya. Jika Ben marah, mereka akan semakin senang. Jika Ben tidak melawan, mereka terus melakukannya sampai Ben mengeluarkan reaksi. Dengan demikian, bullying yang dilakukan kepada Ben pun tidak sekadar mengarah pada sexual bullying, tetapi memang sudah terjadi.

Untungnya, perlakuan tidak pantas yang diterima Ben tidak berlanjut sampai kelas IX. Ben pun tidak lagi sekelas dengan mereka. Akan tetapi, perasaan cemas akan dimainkan alat vitalnya maupun disentuh pada bagian tertentu yang membuatnya tidak merasa nyaman. Ia pun merasa takut untuk masuk ke toilet pria, karena tidak ada kamar kecilnya, hanya tersedia uriner. Meskipun tidak ada siapa-siapa, perasaan cemas dan takut itu selalu menghantui Ben. Ia kuatir jika saat ia berganti pakaian maupun buang air kecil ada yang melihatnya akan mengganggunya.

Perasaan takut dan cemas dalam diri Ben membuatnya selalu mencuri-curi kesempatan untuk masuk ke kamar kecil yang sebenarnya diperuntukkan bagi para murid perempuan. Ben sama sekali tidak mengganggu para murid perempuan, ia hanya masuk ke sana jika tidak ada orang lain dan kamar kecil itu kosong, hanya untuk buang air kecil. Jika benar-benar terpaksa, ia masuk ke dalam toilet laki-laki dengan menahan perasaan takutnya sambil mengawasi keadaan. Ia tidak peduli lagi pada apa yang dikatakan oleh aturan, ia hanya tidak ingin diganggu.

Setelah terlepas dari bullies saat SD, Ben tidak benar-benar merasa tenang karena bullies semakin banyak. Perlakuan mereka pun sama parahnya dengan bullies saat SMP. Secara keseluruhan, di SMP ia menerima kekerasan secara verbal dan peecehan seksual. Alasan mengapa ia berhak menerima semua itu pun sama sekali tidak jelas. Pengalaman-pengalaman buruk yang dialami Ben selama SMP menimbulkan perasaan tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ia pun tidak menyukai dirinya lagi. Ben mulai memersepsikan dirinya tidak berguna, karena teman-teman selalu mengucilkannya saat pelajaran olah raga.Akibatnya, ia juga merasa tidak percaya diri. Ben pun "bertarung" dalam pikirannya, karena perkataan "Hai cewek..." dan perlakuan-perlakuan tidak pantas selalu terbayang dalam imajinasinya. Entah mengapa, Ben selalu merasakan kemarahan jika menyaksikan teman lainnya diperlakukan seperti dirinya (tidak senonoh). Perasaan itu muncul sejak Ben diperlakukan secara tidak pantas. Seakan-akan Ben ingin menghapuskan semua kenangannya dan memulai hidup yang baru. Sayangnya, ia tidak dapat melakukan hal itu.


kaieckhardt.bandcamp.com





Bersambung . . .

Sunday, 3 January 2016

Warna-Warni selama SMP (Bagian I)

Beberapa minggu setelah masuk ke SMP, tepatnya di kelas A, Ben belum merasa benar-benar nyaman dalam pergaulannya. Kenangan-kenangannya mengenai kehidupan SD masih saja menghantuinya. Di SMP memang berbeda dari SD, karena satu angkatan tidak terbagi ke dalam dua kelas saja, tetapi empat kelas. Dengan demikian, Ben beranggapan bahwa anak kelas A berbeda dengan anak kelas B, C, dan D. Di kelas A pun teman-teman SD kelas B sekelas dengan Ben, sehingga ia seakan-akan memersepsikannya sebagai "orang asing." Pada kenyataannya tidak semua anak yang berasal dari kelas B saat SD itu bersikap sinis terhadapnya. Dapat dikatakan pula mereka tidak terlalu sinis sejak masuk ke SMP. Sekarang mulai terlihat seberapa mudahnya Ben terpengaruh oleh ucapan-ucapan guru SD-nya, bukan?


Kecenderungan Ben dalam pergaulan pun tidak jauh berbeda dengan pada saat ia menduduki kursi SD. Dalam pergaulan, ia masih saja menjadi pribadi yang lebih banyak menarik diri. Selama berinteraksi dengan teman-temannya, Ben tidak terlalu ekspresif, ia juga tidak banyak berbicara. Saat jam istirahat pun ia tidak banyak bermain dengan teman-teman barunya. Selain merasa enggan karena beranggapan teman-temannya akan menolaknya seperti pada paragraf sebelumnya, Ben memiliki perasaan takut jika teman-temannya melakukan bullying. Hal-hal ini membuatnya lebih memilih untuk menyendiri dan menggambar saja selama istirahat.

Walaupun Ben hanya menyendiri, ia dekat dengan beberapa teman sebangkunya. Mereka adalah Anggi, Vina, dan Rose, ketiganya adalah anak-anak perempuan. Anggi dan Vina adalah anak yang cerdas, selalu mendapat nilai yang baik dalam tugas dan ulangan. Rose adalah anak perempuan dengan tubuh yang lebih besar dari Ben dan lebih tegas. Selama bergaul dengan Ben, ia lebih mirip dengan sosok kakak bagi Ben. Selain mereka, Ben juga dekat dengan Chris, seorang anak laki-laki yang cerdas dan sedikit usil.

Ternyata dugaan Ben bahwa ada anak-anak tertentu yang dapat melakukan bullying menjadi nyata saat pertengahan semester kelas VII. Awalnya, seorang anak laki-laki yang bernama Bondan hanya usil kepada Ben. Semakin lama, kejahilannya semakin menjadi-jadi sampai Ben tidak dapat menoleransinya, karena ia selalu mengambil barang-barang Ben dan menyembunyikannya. Setelah Bondan melakukannya selama beberapa hari, terdapat 2 orang teman SD Ben yang menganggunya dengan cara yang sama. Kedua anak itu adalah Samy dan Ivan. Mereka tidak pernah Ben hanya menyendiri selama istirahat. Mereka selalu saja mengambil kotak makan Ben saat ia sedang makan. Apabila Ben sedang mengerjakan sesuatu, perlengkapannya selalu diambil dan disembunyikan. 

Salah satu peristiwa saat Samy dan Ivan mengganggu Ben adalah saat Ben mengerjakan tugas Seni di kelas. Saat itu, Ben benar-benar marah karena ia ingin menikmati suasana saat melukis. Ia yang benar-benar marah memukul Ivan dengan penggaris panjangnya hingga patah. Anehnya, Ivan tidak menangis, justru kejahilannya semakin intensif. Ben pun menendang kakinya dan Ivan sama sekali tidak kesakitan. Ben yang merasa frustrasi terdiam dan menatap sinis selama diganggu. Tidak lama kemudian, seorang teman dari kelas C datang, ia bernama Jose.

listas.20minutos.es


www.pinterest.com
Jose adalah anak seusia dengan Ben, namun ia memiliki tubuh yang jauh lebih besar. Saat itu, Ben dan Jose sama sekali belum mengenal satu sama lain. Tiba-tiba, Jose menghampiri Ben yang sedang terdiam dikelilingi Samy dan Ivan. Jose pun memukul kepala Ben dengan keras tanpa sebab yang jelas. Ben membalas pukulannya, tetapi sama sekali tidak berhasil, karena Jose tidak merasa sakit sama sekali. Ben yang saat itu masih membenci ayahnya karena seringkali berkata kasar dan memukul kepalanya saat belajar merasa kemarahan yang amat besar saat kepalanya dipukul oleh Jose. Sayangnya, Ben tidak mampu memertahankan dan membela dirinya, kemampuannya secara fisik jauh lebih lemah daripada Jose dan Ivan yang tidak merasa sakit saat dibalas. Jose pun hanya diam dan dipukul kepalanya berkali-kali oleh Jose hingga ia menangis.

Kebetulan, Rose memasuki kelas saat Ben mulai menangis. Ia pun mengusir teman-teman yang menjahili Ben, termasuk Jose. Jose dan Rose pun bertengkar mulut di hadapan Ben. Ia yang menyaksikan pertengkaran temannya dengan Jose menyalahkan dirinya. Ben berkata dalam hatinya, "Kalo gue ga selemah ini, Rose ga perlu lindungin gue kayak gini." Ia pun mengambil gunting dari tas perlengkapan seninya dan memotong kuku-kukunya menjadi runcing. Ben melakukannya untuk mencakar Jose hingga berdarah jika ia sampai menjahilinya lagi. Jose pun pergi meninggalkan kelas A setelah dimarahi Rose.

Ben yang sedang diselimuti amarah sangat sulit untuk dibujuk oleh Rose. Ia memang kesal kepada para bullies, tetapi ia belum dapat mengendalikan kemarahannya. Dengan demikian, ucapannya yang selama ini tidak kasar menjadi lebih ketus daripada biasanya, bahkan terhadap Rose. Rose yang lebih dewasa daripada Ben saat itu memahami penyebab perilaku Ben dan membiarkannya tenang sampai esok hari. Rose yakin Ben akan lebih tenang, karena sudah tidak ada jam istirahat dan teman-teman lain tidak ada yang berani mendekati Ben yang sedang marah, terutama saat melihat kuku-kukunya yang runcing.

www.123rf.com