Tiba giliran Ben dipanggil ke ruang kepala sekolah. Secara kebetulan, Ben dan Susi dipanggil secara bersamaan ke sana untuk diinterogasi secara bersamaan. Pihak sekolah banyak sekali menanyakan kasus pencurian, padahal Ben tidak mengetahui apapun. Setiap kali ditanya, ia menatap Susi karena ia terkesan lebih banyak mengetahui hal ini. Walaupun Susi dicurigai pihak sekolah sebagai pencuri HP, cara berperilaku Ben membuat kepala sekolah mencurigainya sebagai rekan Susi dalam pencurian.
Keesokan harinya, Ben dan Susi dipanggil secara terpisah ke ruang kepala sekolah. Tiba gilirannya, kali ini Ben berhadapan sendiri dengan kepala sekolah dan para wakilnya. Lagi-lagi ia ditanya mengenai kasus pencurian HP. Dalam jam istirahat sekolah, Bu Christy (guru BK) menghampiri Ben. Ia menawarkan Ben untuk mengikuti tes SQ di daerah Kelapa Gading. Ben tidak memberi jawaban pasti untuk mengikutinya ataukah tidak. Ternyata, Bu Christy membawa Ben, Susi, Jono, dan Jerry sepulang sekolah ke Kelapa Gading untuk dites. Pihak Sekolah sama sekali tidak memberi tahu orangtua mereka mengenai hal ini. Parahnya lagi, Ben tidak membawa HP untuk menghindari pencurian di jam olahraga sekolah.
Sesampainya di daerah Kelapa Gading, seorang ahli kesehatan mental yang bernama Pak Budi menghampiri Bu Christy dan murid-muridnya. Tanpa basa-basi, mereka pun segera diberi tes SQ seperti yang disampaikan Bu Christy kepada Ben. Jumlah soalnya sangat banyak dan membuat tangan terasa pegal. Anehnya, Jerry, Jono, dan Ben diminta mengerjakan lagi dari awal. Alasannya, hasil tesnya tidak dapat dikoreksi karena banyak jawaban yang salah. Setelah dikerjakan lagi, tetap saja Ben diminta mengerjakan lagi, lagi, dan lagi. Ben sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Setelah empat kali mengerjakan, akhirnya Ben tidak diminta lagi melakukannya. Bu Christy dan murid-muridnya pun diminta menunggu di ruang tamu. Satu per satu para murid dipanggil Pak Budi untuk masuk ke ruangannya. Waktu yang ia habiskan bersama seorang murid kurnag lebih sekitar 15 menit. Setiap murid yang keluar menampilkan wajah yang tampak lesu, tidak bersemangat, tidak tersenyum, dan menatap ke bawah. Ada apa sebenarnya?
| http://ivyleagueinsecurities.com/2010/05/mean-people/ |
Ketika Ben dipanggil ke dalam ruangan, rupanya Pak Budi mengatakan, "Cuma kamu lho yang hasil tesnya ga keluar-keluar. Ada yang kamu rahasiakan?" Ben sudah mengatakan tidak menyimpan rahasia, masih saja Pak Budi mendesaknya untuk menceritakan sebuah rahasia yang tidak ada. Ben hanya mengatakan ia tidak membiarkan ayahnya tahu bahwa selama ini ia pulang ke rumah dengan naik angkot. Tetap saja ditanya oleh Pak Budi, "Ada rahasia apalagi yang kamu sembunyikan?" Ben terdiam, karena tidak tahu harus mengatakan apalagi, ia semakin merasa tersudut. Tiba-tiiba raut wajah Pak Budi berubah. Dahinya berkerut, tatapannya terfokus pada mata Ben, tubuhnya condong ke depan. Ia bertanya, "Kamu tahu kan soal pencurian HP itu?"
Ben yang terkejut mendengar pertanyaan Pak Budi langsung bertanya, "Gimana Bapak tahu?" Pak Budi mengalihkan pandangannya dan mengatakan hanya pernah mendengar dari Bu Christy. Sekali lagi ia bertanya, "Kamu tahu kan?" Saat itu, hal yang pertama terlintas dalam pemikiran Ben adalah pihak sekolah bekerja sama dengan Pak Budi untuk mencari kebenaran kasusnya, sekaligus menuduh Ben sebagai pelaku. Kepercayaan yang ia miliki kepada pihak sekolah selama ini hancur. Ia terdiam dan mengatakan "Saya ga tau" dengan suara yang gemetar. Saat itu juga, Ben diminta keluar dari ruangan oleh Pak Budi.
Di hadapan Bu Christy dan teman-temannya, Ben hanya menampilkan wajah datar. Saat ditanya, "Gimana?" oleh Bu Christy, ia hanya tersenyum kecil. Tidak lama kemudian Pak Budi menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Bu Christy. Setelah itu, Bu Christy dan murid-muridnya kembali ke sekolah. Selama berada di dalam mobil, hanya Bu Christy saja yang masih bisa tersenyum dan bercanda. Sementara itu semua murid yang bersamanya muram, sama sekali tidak tersenyum, apalagi tertawa. Ben hanya berkata dalam hatinya, "Ternyata dia yang selama ini kesannya baik padahal nuduh gue sembarangan. Tau kasusnya aja juga nggak, nuduh. Guru macem apa lo?"
Bersambung....



